Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mengawal pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) gasifikasi batu bara kalori rendah menjadi metanol sebagai langkah konkret mendukung kedaulatan industri dalam negeri.
"Proyek hilirisasi bernilai tambah tersebut berpusat di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur," kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltim Bambang Arwanto di Samarinda, Selasa.
Dia menegaskan bahwa proyek hilirisasi itu diharapkan tidak berhenti pada tahap konstruksi, melainkan memiliki keberlanjutan yang jelas hingga tahap produksi massal.
"Jangan sampai proyek ini hanya sebatas pemasangan tiang tanpa kelanjutan yang jelas, kita ingin hilirisasi ini benar-benar berjalan, menghasilkan produk, membuka lapangan kerja, dan memberikan nilai tambah bagi Kalimantan Timur," ujar Bambang.
Proyek strategis yang dikembangkan oleh perusahaan patungan PT Bumi Etam Chemical (BEC) tersebut memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 93 hektare di dalam kawasan BCIP.
Dari fasilitas seluas itu, pabrik gasifikasi ditargetkan mampu mencetak produksi sekitar dua juta ton metanol per tahun guna memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri.
Kehadiran pabrik metanol ini diyakini pihaknya mampu menekan tingkat ketergantungan Indonesia terhadap pasokan impor sekaligus menghemat devisa negara hingga mencapai Rp7,1 triliun per tahun.
Secara teknis, proses hilirisasi tersebut akan menyerap bahan baku sekitar 7,70 hingga 7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg setiap tahunnya.
Bahan mentah tersebut nantinya diolah secara modern menjadi produk akhir metanol yang memenuhi kualifikasi standar global International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA).
Selain mengejar kedaulatan industri kimia dan energi nasional, Pemprov Kaltim turut memastikan bahwa PSN ini memberikan keadilan sosial dengan memprioritaskan penyerapan sumber daya manusia daerah setempat.
Kebutuhan tenaga kerja lokal diperkirakan mencapai 2.000 orang pada tahap awal konstruksi, kemudian akan melonjak hingga 5.000 orang pada puncak pembangunan, serta menyerap 800 pekerja operasional saat pabrik berjalan penuh.
Melalui realisasi proyek hilirisasi terpadu ini, Pemprov Kaltim meyakini akan tercipta efek ganda (multiplier effect) yang luas berupa percepatan investasi, peningkatan kompetensi angkatan kerja, serta pertumbuhan pusat aktivitas ekonomi baru bagi kesejahteraan warga di sekitar Kutai Timur.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.