Subang, CNBC Indonesia - BYD resmi mengoperasikan fasilitas produksi kendaraan listrik di Indonesia. Kehadiran pabrik tersebut menjadi penting untuk mendorong Indonesia tidak hanya sebagai pasar kendaraan listrik, tetapi juga basis produksi untuk kawasan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai keputusan BYD memilih Jawa Barat sebagai lokasi fasilitas produksi merupakan langkah yang tepat. Provinsi tersebut memiliki fondasi industri yang kuat sekaligus menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.
"Keputusan BYD untuk membangun fasilitas produksi di Jawa Barat merupakan pilihan yang sangat tepat. Jawa Barat merupakan salah satu basis industri terkuat di Indonesia. Pada triwulan kedua 2026, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,73%, juga di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, serta memberikan kontribusi sebesar 12,88% terhadap PDB nasional dan ini terbesar ketiga dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia," kata Agus dalam peresmian fasilitas produksi BYD Indonesia, di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).
Kekuatan manufaktur Jawa Barat juga menjadi modal bagi pengembangan rantai pasok kendaraan listrik. Pemerintah kini mendorong agar investasi otomotif berbasis listrik semakin banyak menyerap komponen lokal, sehingga dampaknya tidak berhenti pada aktivitas perakitan kendaraan.
"Dari sisi industri, Jawa Barat menempati posisi pertama secara nasional dengan kontribusi 27,32% terhadap industri olahan nasional dan mencetak nilai tambah atau value added sebesar Rp331,16 triliun. Industri pengolahan yang ada di Jawa Barat menjadi sektor utama bagi perekonomian Jawa Barat yang memberikan kontribusi mendekati 40% terhadap PDRB Jawa Barat," ujar Agus.
Pertumbuhan kendaraan listrik di dalam negeri turut memperkuat prospek investasi tersebut. Pemerintah mencatat populasi kendaraan listrik nasional terus meningkat, sementara penjualan kendaraan elektrifikasi roda empat juga menunjukkan penerimaan konsumen yang semakin besar.
Agus mengatakan pemerintah ingin pertumbuhan pasar tersebut berjalan seiring dengan pendalaman industri di dalam negeri. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) secara bertahap, sekaligus membuka ruang bagi industri komponen lokal untuk masuk ke rantai pasok kendaraan listrik.
"Peta jalan KBLBB meningkatkan nilai minimum TKDN secara bertahap, yaitu 40% tahun ini, 60% pada 2027-2029 dan 80% pada tahun 2030, agar investasi tidak berhenti hanya pada perakitan, tetapi semakin melibatkan industri komponen dan rantai pasok dalam negeri," kata Agus.
Dalam waktu relatif singkat, BYD sendiri telah membangun posisi kuat di pasar kendaraan listrik Indonesia. Data Gaikindo menunjukkan penjualan BYD sepanjang 2024 hingga semester I-2026 telah mendekati 94.000 unit, dengan produk-produknya telah memiliki TKDN di atas 40%.
Sebagai informasi, pabrik BYD ini dibangun di kawasan Subang Smartpolitan Industrial Park, Subang, Jawa Barat dengan nilai investasi Rp 11,7 triliun. Rencananya, fasilitas tersebut dengan kapasitas produksi hingga 150 ribuan unit setahun ini, menduduki luas hingga 126 hektare.
Sementara, saat ini ada enam mobil listrik BYD yang dijual di dalam negeri yaitu Seal, M6, Dolphin, Atto 3, Sealion 7, dan Atto 1. Keenam model itu masih berstatus impor secara utuh alias Completely Build Up (CBU) dari Negeri Tirai Bambu.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.