Jakarta - Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan derasnya jenama-jenama asal China yang hadir di Indonesia, membawa karakter berbeda dengan pabrikan Jepang maupun Eropa dalam menyajikan teknologi di kendaraan.
“Kalau mobil China ini lucu, mendisrupsi pasar sebenarnya. Bisa jadi keluar produk baru dengan teknologi lebih canggih, tapi harganya bisa turun. Itu yang menarik. Teknologinya canggih, tetapi harga turun,” kata Yannes kepada media di Jakarta, Kamis.
Dia melanjutkan, hal tersebut membuat persaingan industri otomotif semakin dinamis karena konsumen kini dapat menemukan kendaraan dengan teknologi yang lebih baru, tetapi dengan harga yang relatif lebih kompetitif.
Pola itu, dikatakannya, berbeda dengan karakter sebagian besar produk Jepang dan Eropa yang cenderung mengalami kenaikan harga seiring penambahan fitur maupun pembaruan spesifikasi.
Ia mencontohkan, dalam beberapa tahun terakhir kenaikan harga kendaraan Jepang relatif konsisten, sementara perubahan teknologi yang diberikan pada model yang sama cenderung bersifat minor.
“Kalau produk Jepang atau Eropa, mostly setiap tahun naik. Misalnya sekitar empat persen per tahun. Speknya paling minor change, tidak berubah total,” ucap dia.
Kondisi tersebut membuat harga mobil Jepang semakin tinggi ketika pabrikan menambahkan fitur atau teknologi baru.
Sebaliknya, produsen China dinilai justru menggunakan teknologi sebagai salah satu instrumen untuk mendisrupsi pasar.
“Kalau China bikin barang, barangnya keren, mengagetkan karena murahnya. Kemudian keluar yang terbaru dengan teknologi berbeda,” ujarnya.
Fenomena tersebut, lanjut dia, dapat terlihat dari perkembangan produk kendaraan listrik China di Indonesia. Salah satunya, adalah evolusi teknologi pada lini kendaraan listrik seperti Wuling dan lainnya.
Menurut dia, hadirnya pembaruan teknologi dengan harga yang semakin kompetitif menjadi tantangan sekaligus pemicu bagi industri otomotif secara keseluruhan, untuk mempercepat inovasi dan menawarkan nilai lebih kepada konsumen.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.