Kupang, NTT - Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, bersama FKUB memperkuat pendampingan psikologis dan spiritual warga terdampak gempa Flores untuk membantu pemulihan mental serta menjaga ketahanan umat menghadapi gempa susulan.
“Masyarakat sangat membutuhkan dukungan doa dan kehadiran fisik kita untuk memulihkan mental mereka. Kemenag Mabar bergerak cepat mendorong integrasi data ini ke dalam program Bantuan Sarana dan Prasarana Rumah Ibadah Kemenag agar segera mendapat atensi rehabilitasi dari pemerintah pusat," kata Kepala Kantor Kemenag Mabar Fransiskus Xaverius Adi dalam keterangannya di Kupang, NTT, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa meskipun tingkat kerusakan fisik tidak seberat wilayah lain, dampak psikologis dan rasa cemas akibat gempa susulan masih membayangi aktivitas harian warga serta kekhusyukan ibadah umat.
Berdasarkan data yang dikoordinasikan bersama BNPB dan Kementerian PUPR, sejumlah rumah ibadah di wilayah Manggarai Barat terdampak gempa, yakni Gereja Katolik sebanyak 64 lokasi, terdiri atas 22 rusak ringan dan 42 rusak berat; masjid dan mushala sebanyak 44 lokasi, terdiri atas lima rusak ringan dan 38 rusak berat; Gereja Kristen sebanyak lima lokasi; serta satu pura mengalami kerusakan fisik.
Dia menjelaskan, guna mengoptimalkan pemulihan psikologis umat (trauma healing), Kemenag Mabar memaksimalkan peran fungsional para Penyuluh Agama Lintas Agama di lapangan.
Para penyuluh diterjunkan langsung ke kantong-kantong pengungsian untuk memberikan pendampingan psikospiritual (Spiritual First Aid) agar masyarakat tetap tenang dan tangguh menghadapi cobaan.
Adapun Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Republik Indonesia bersama Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat mengintegrasikan Program Penguatan Moderasi Beragama dengan aksi kemanusiaan pascabencana.
Ketua Umum Asosiasi FKUB RI, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, menegaskan bahwa penanganan dampak pascabencana merupakan momentum nyata untuk membuktikan kokohnya pilar Moderasi Beragama di tengah masyarakat.
Komitmen kebangsaan dan kemanusiaan universal menjadi landasan utama pergerakan tokoh lintas iman dalam membantu masyarakat terdampak.
“Kita semua bersaudara dalam rumah besar NKRI. Pertemuan ini didasari cinta kasih dan toleransi murni. Inilah esensi sejati dari Moderasi Beragama yang digaungkan oleh Kementerian Agama," ujar Ida Pangelingsir.
Ia juga memanfaatkan momentum ini untuk mengetuk kepedulian nasional, mendesak pemerintah pusat, BUMN, hingga para pengusaha besar agar mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) secara masif guna merekonstruksi hunian warga yang hancur.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui kunjungan kepedulian, penyaluran bantuan tali kasih oleh Asosiasi FKUB RI senilai Rp5.000.000 , serta doa bersama lintas agama untuk pemulihan psikologis (trauma healing) masyarakat terdampak gempa Flores yang bertempat di Pendopo Katedral Labuan Bajo.
Sebelum tiba di Labuan Bajo, rombongan Asosiasi FKUB RI telah menuntaskan safari kepedulian serupa di wilayah Flores yang terdampak.
Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Manggarai Barat, RD Rikardus Manggu, mengapresiasi kunjungan ini sebagai "surat cinta dari Tuhan" yang menguatkan moril para korban dan relawan.
Ia menceritakan bagaimana komunitas Katolik dan Muslim di pesisir utara, seperti di Paroki Stasi Wae Garloka, bergotong royong bertahan hidup di bawah tenda darurat melalui jaringan Caritas Indonesia (Karina).
Rikardus juga mengingatkan kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) dan relawan keagamaan di lapangan agar terus memelihara spiritualitas pelayanan sesuai dengan nilai luhur Kementerian Agama, yakni Ikhlas Beramal.
"Kehadiran fisik antarsaudara di tengah krisis kebangsaan seperti ini jauh lebih berharga untuk menyelamatkan mental para korban daripada sekadar rutinitas kerja dinas," ujar dia.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.