Jakarta - Kementerian Agama memastikan ratusan santri Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo yang diduga mengalami keracunan pada Selasa, dapat tertangani secara cepat dan tepat.
“Yang paling utama saat ini adalah memastikan seluruh santri mendapatkan penanganan kesehatan dengan baik. Kementerian Agama melalui jajaran di daerah terus memantau perkembangan kondisi mereka dan berkoordinasi dengan pihak pesantren serta instansi kesehatan,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno di Jakarta, Rabu.
Sebelumnya, para santri mengeluhkan sejumlah gangguan kesehatan pada Selasa sore, 1 September 2026. Para santri dilaporkan mengalami keluhan berupa sakit, pusing, mual, dan lemas.
Mendapat laporan tersebut, pengasuh pesantren segera melakukan koordinasi dengan puskesmas dan dinas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Ratusan santri itu dirujuk ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Para santri dirujuk antara lain ke RSUD Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura Candi, RS Siti Fatimah Tulangan, RS Pusdik Bhayangkara, dan RS Arafah Anwar Medika.
Tim dinas kesehatan juga langsung menuju pesantren untuk memberikan pertolongan pertama kepada para santri. Penanganan dilakukan secara bertahap berdasarkan kondisi masing-masing santri dan kebutuhan rujukan medis.
Suyitno mengatakan keselamatan dan kesehatan para santri menjadi prioritas utama dalam penanganan kejadian tersebut. Ia meminta seluruh jajaran Kemenag di daerah terus mendampingi pesantren sampai kondisi para santri mendapatkan penanganan secara optimal.
“Jangan sampai ada santri yang tidak mendapatkan perhatian dan penanganan yang diperlukan. Kita harus memastikan proses penanganannya berjalan dengan baik sampai kondisi mereka pulih,” kata dia.
Suyitno menegaskan program pemenuhan gizi bagi peserta didik dan santri harus dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keamanan, kualitas, serta standar kesehatan yang berlaku.
“Pemenuhan gizi bagi anak-anak dan santri merupakan ikhtiar yang sangat baik. Namun, pelaksanaannya harus benar-benar memperhatikan keamanan pangan, kualitas makanan, proses pengolahan, distribusi, dan pengawasan. Kita tidak ingin program yang baik justru menimbulkan persoalan bagi para penerima manfaat,” kata dia.
Menurut Suyitno, pesantren merupakan lingkungan pendidikan sekaligus tempat para santri menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, aspek kesehatan dan keamanan pangan perlu mendapatkan perhatian serius agar kegiatan pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
Kemenag juga berharap kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan bagi santri. Pengawasan dan koordinasi perlu terus diperkuat agar keamanan pangan tetap terjamin.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menangguhkan atau suspend berat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidoarjo Talangangin Kalitengah, Jawa Timur, yang menyebabkan kejadian fatal keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 512 siswa di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo.
"Kami juga suspend berat selama 30 hari SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah. Selain itu, kami juga mengusulkan kepala SPPG tersebut untuk dicopot dan digantikan," ujar Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana.
Ketut menegaskan Kepala BGN Sudaryono juga telah berkomunikasi secara intensif dengan kepala daerah dan pimpinan Pondok Pesantren Manbaul Hikam untuk menindaklanjuti kasus tersebut dan mengutamakan kesembuhan siswa.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.