Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) membangun ekosistem industri kebudayaan dari aspek pembiayaan hingga pasar untuk menjadikan kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dan memperkuat pengaruh global.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Jumat, mengatakan pembangunan ekosistem tersebut penting agar kekayaan budaya Indonesia tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai modal untuk menciptakan manfaat ekonomi dan memperkuat kekuatan lunak (soft power).
“Kita melihat ini (budaya) bisa menjadi satu potensi yang besar untuk daya ungkit pembangunan nasional,” katanya dalam peluncuran Nusantara Rising oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Menurut Fadli, pemerintah perlu mengatasi mata rantai yang masih terputus dalam pengembangan industri kebudayaan, salah satunya kesenjangan pembiayaan bagi pelaku yang berada di antara skala kecil dan pembiayaan komersial besar (the missing middle financing).
Dia menyebut lima arah kerja sama yang perlu dijalankan, yakni membangun ekosistem pembiayaan industri kebudayaan, memperkuat kekayaan intelektual berbasis budaya, membuka akses pasar dan distribusi, memperkuat kemitraan industri beserta efek gandanya, serta meningkatkan koordinasi dan penyelesaian berbagai hambatan.
Fadli menegaskan tugas negara untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia merupakan amanat konstitusi.
Kebudayaan, menurut dia, tidak hanya mencakup seni pertunjukan, tetapi juga bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, permainan rakyat, pengetahuan tradisional, olahraga tradisional hingga pangan lokal.
Indonesia, kata Fadli, memiliki sumber daya budaya yang sangat besar.
“Boleh dibilang kita ini sebenarnya adalah 'superpower' (adidaya) di bidang kebudayaan,” katanya.
Namun, menurut dia, kekayaan tersebut belum cukup tanpa ekosistem dari hulu ke hilir yang menghubungkan aset budaya, kreativitas, kekayaan intelektual, produksi, pembiayaan, distribusi, pasar, dan pengaruh.
Oleh karena itu, Kemenbud menyambut baik peluncuran gerakan kolaboratif Nusantara Rising.
Kadin Indonesia meluncurkan Nusantara Rising: Indonesia’s Collective Soft Power Movement sebagai gerakan kolaboratif untuk memperkuat pengaruh budaya Indonesia di tingkat global.
Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Kadin Indonesia Rahayu Saraswati mengatakan inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut dari Indonesia "Soft Power Paper" yang diinisiasi Kadin bersama pelaku industri dan berbagai pemangku kepentingan.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal budaya yang sangat besar, mulai dari ribuan suku bangsa dan tradisi, ratusan bahasa daerah hingga beragam cerita rakyat, musik, tari, kuliner, dan wisata.
Namun, kata Rahayu, kekayaan budaya tersebut belum otomatis menjadi kekuatan. Budaya perlu dipandang tidak hanya sebagai warisan, tetapi juga sumber daya yang menciptakan daya tarik, daya cipta, nilai ekonomi, dan pengaruh global.
Dia mengibaratkan budaya sebagai sumber daya, sedangkan ekonomi kreatif menjadi mesin penggeraknya. Jika dikelola secara strategis, budaya dapat menjadi mesin ekonomi sekaligus sumber pengaruh Indonesia di tingkat global.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.