Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Kemenperin catat Indeks Kepercayaan Industri Agustus ekspansi di 52,30

NadiKabar Biro
Kemenperin catat Indeks Kepercayaan Industri Agustus ekspansi di 52,30
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Kemenperin catat Indeks Kepercayaan Industri Agustus ekspansi di 52,30.

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Agustus 2026 masih berada di zona ekspansi dengan nilai 52,30.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, capaian IKI Agustus 2026 yang masih berada di atas level 50 menunjukkan optimisme industri terhadap perkembangan ekonomi nasional.

"Nilai IKI pada bulan Agustus 2026 adalah 52,30 masih di atas 50 atau masih ekspansi. Meskipun melambat sebesar 0,8 poin dibandingkan dengan bulan Juli 2026 yang IKI-nya sebesar 53,1," ujar Febri di Jakarta, Senin.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 22 subsektor tercatat mengalami ekspansi dan satu subsektor kontraksi. Subsektor yang mengalami ekspansi tersebut berkontribusi sebesar 98,6 persen terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan.

"Artinya yang ekspansi adalah industri-industri besar. Industri yang memiliki IKI tertinggi pada bulan Agustus 2026 adalah IKI subsektor industri minuman KBLI 11 dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia KBLI 20," kata Febri.

Sementara itu, subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki atau KBLI 15.

Febri menjelaskan, berdasarkan variabel pembentuk IKI yang terdiri dari pesanan baru, produksi, dan persediaan produk, terdapat dinamika yang berbeda pada Agustus 2026.

Variabel pesanan baru mengalami perlambatan sebesar 0,67 poin menjadi 53,13. Namun, variabel produksi justru meningkat sebesar 0,55 poin menjadi 55,10.

Sementara variabel persediaan produk mengalami penurunan sebesar 3,16 poin sehingga berada pada level kontraksi 46,02.

Dari sisi orientasi pasar industri, IKI ekspor dan IKI domestik masih ekspansi meski melambat. IKI domestik turun menjadi 51,13 dan IKI berorientasi ekspor juga turun menjadi 53,09.

Febri menambahkan, ketahanan industri manufaktur Indonesia juga tercermin dari pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada kuartal II 2026 yang mencapai 5,32 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

"Hal tersebut membuktikan bahwa industri manufaktur tetap merupakan penopang atau yang menarik pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Febri.

Ia menyebut pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,32 persen pada kuartal II 2026 merupakan pertumbuhan tertinggi dalam kurun waktu 14 tahun terakhir dan memberikan kontribusi sebesar 0,9 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Lebih lanjut, Febri menilai daya tahan industri manufaktur Indonesia juga terlihat dari kemampuan sektor tersebut pulih lebih cepat setelah pandemi COVID-19 dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya.

Ia menjelaskan, salah satu faktor utama yang membuat industri manufaktur Indonesia lebih cepat pulih adalah kuatnya permintaan domestik. Sekitar 80 persen permintaan industri manufaktur berasal dari pasar dalam negeri, sedangkan 20 persen berasal dari ekspor.

Selain itu, pada Agustus 2026, Febri mengatakan industri masih mencermati perkembangan pasar domestik maupun ekspor.

Meskipun terdapat sedikit penurunan permintaan, pelaku industri tetap menjaga aktivitas produksi karena melihat prospek perekonomian nasional dan global masih akan membaik.

"Industri masih tetap memproduksi produk-produknya karena memandang bahwa perekonomian Indonesia dan juga perekonomian global masih akan tetap membaik," ujarnya.

Dari sisi kegiatan usaha, sebanyak 78,6 persen responden menyatakan kondisi usahanya membaik dan stabil. Rinciannya, pelaku usaha yang menyatakan kondisi usaha membaik sebesar 34,2 persen, sementara yang menyatakan stabil mencapai 44,4 persen.

Adapun tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usaha enam bulan ke depan masih terjaga. Sebanyak 66,6 persen pelaku usaha menyatakan optimistis, 27,4 persen menyatakan stabil, dan hanya 6 persen yang menyatakan pesimis.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia