Jakarta - PT Kimia Farma (Persero) Tbk memperluas edukasi publik mengenai keamanan dan pemanfaatan terapi sel punca serta mendorong studi multisenter untuk memperkuat bukti medis dalam pemanfaatan klinis terapi regeneratif.
Direktur Komersial Kimia Farma Hanadi Setiarto mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam layanan kesehatan, tetapi perlu diimbangi dengan edukasi yang memadai kepada masyarakat.
"Fokus jangka pendek kami tidak sebatas memperkenalkan StemXera ke publik, melainkan memperluas jaringan fasilitas kesehatan yang mampu menyediakan layanan terapi ini dengan standar keamanan tinggi," kata Hanadi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Talk Show "Update Terapi Sel Punca & Turunannya di Indonesia" di RSCM Kencana, Jakarta, Sabtu, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ACTO-ASPI 2026.
The 17th Annual Meeting of Asian Cellular Therapy Organization (ACTO) 2026 berkolaborasi dengan Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) dan mempertemukan akademisi, peneliti, klinisi, pelaku industri, serta regulator dari berbagai negara untuk membahas perkembangan terapi berbasis sel.
Pertemuan tahunan utama ACTO tersebut berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 dan diikuti peserta serta delegasi dari 15 negara di Asia. Forum membahas antara lain perkembangan riset, penerapan klinis, dan arah regulasi terapi berbasis sel.
Dalam rangkaian kegiatan itu, Kimia Farma turut menyampaikan perkembangan StemXera, merek produk sel punca dan sekretom yang dikembangkan bersama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Kimia Farma mencatat pengembangan produk tersebut telah berlangsung sejak 2013, sedangkan StemXera secara resmi diluncurkan pada April 2026.
StemXera dikembangkan di fasilitas laboratorium sel punca RSCM yang telah memperoleh sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
BPOM menyerahkan sertifikat CPOB kepada fasilitas Instalasi Teknologi Kedokteran Sel Punca RSCM pada Juli 2024.
Untuk memperluas pemanfaatannya, Hanadi mengatakan pengembangan terapi tersebut juga perlu didukung bukti klinis yang kuat.
"Untuk jangka menengah dan panjang, kami mendorong multicenter study agar pemanfaatan klinis StemXera ke depannya semakin luas, proporsional, dan ditopang bukti medis (clinical evidence) yang solid," tutur Hanadi.
Kedokteran regeneratif merupakan pendekatan medis yang memanfaatkan kemampuan sel dan komponen biologis tubuh untuk memperbaiki, meregenerasi, atau memulihkan jaringan yang mengalami kerusakan.
Salah satu teknologi yang berkembang dalam bidang tersebut adalah pemanfaatan sel punca dan turunannya, termasuk sekretom.
Kimia Farma menyebut terapi berbasis sel punca antara lain dimanfaatkan dalam bidang ortopedi untuk menangani kondisi degeneratif sendi seperti osteoartritis.
Di bidang neurologi, teknologi tersebut juga menjadi bagian dari penelitian dan pengembangan terapi regeneratif untuk kondisi tertentu, termasuk stroke.
Sementara pada bidang dermatologi dan estetika, Kimia Farma menyebut pemanfaatannya antara lain diarahkan untuk menangani kerontokan rambut, peremajaan kulit, serta kondisi hiperpigmentasi seperti melasma.
Sejumlah bidang pemanfaatan sel punca dan turunannya antara lain osteoartritis, stroke, kebotakan, peremajaan kulit, dan melasma.
Dari sisi regulasi, BPOM menggolongkan terapi berbasis sel sebagai advanced therapy medicinal products (ATMP). Pengembangannya diawasi dengan pendekatan berbasis sains dan risiko serta harus memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu.
BPOM telah menerbitkan lima sertifikat CPOB bagi fasilitas pengolahan sel yang memenuhi standar keamanan dan mutu. Sementara penerapan klinis kepada pasien dijalankan melalui sinergi BPOM dengan Kementerian Kesehatan.
Hanadi mengatakan tantangan pengembangan produk bioteknologi seperti StemXera bukan hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga membangun pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap teknologi tersebut.
"Kemajuan terapi regeneratif tidak cukup hanya didorong oleh perkembangan teknologi. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang tepat mengenai potensi manfaat, bukti ilmiah, keamanan, serta penggunaannya," ujar Hanadi.
Karena itu, perusahaan memandang kolaborasi antara institusi pelayanan kesehatan, akademisi, peneliti, regulator, tenaga medis, dan industri diperlukan untuk memastikan inovasi ilmiah dapat diterjemahkan menjadi manfaat klinis secara tepat.
Melalui kolaborasi dengan RSCM dan berbagai institusi kesehatan lainnya, perseroan ingin berkontribusi membangun ekosistem kedokteran regeneratif di Indonesia yang menghubungkan riset, teknologi, kemampuan produksi, tenaga medis, dan pelayanan kepada pasien.
"Kami percaya kolaborasi menjadi kunci agar inovasi kesehatan dapat berkembang secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat," tutur Hanadi.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.