Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Komite negara Perjanjian Mekkah akan bertemu di Istanbul Senin

NadiKabar Biro
Komite negara Perjanjian Mekkah akan bertemu di Istanbul Senin
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Komite negara Perjanjian Mekkah akan bertemu di Istanbul Senin.

Canakkale - Pertemuan perdana komite politik dan pertahanan sejumlah negara anggota Perjanjian Pertahanan Gabungan Mekkah akan dilakukan di Istanbul pada Senin, demikian laporan narasumber Kementerian Luar Negeri Turkiye.

"Pertemuan pertama komite politik dan pertahanan negara-negara Perjanjian Mekkah akan diselenggarakan di Istanbul pada 31 Agustus 2026. Pertemuan rencananya membahas bidang keamanan internasional, perkembangan kemampuan pertahanan, penguatan interoperabilitas operasional pasukan bersenjata tiga negara, kerja sama industri pertahanan, termasuk produksi bersama, penelitian dan pengembangan, serta upaya pemberantasan terorisme," ujar narasumber kepada Kantor Berita RIA Novosti.

Pertemuan juga akan membahas peta jalan sejumlah upaya yang bakal diputuskan oleh Turkiye, Pakistan, dan Arab Saudi di masa akan datang.

Turkiye akan mengutus Menteri Luar Negeri Hakan Fidan, Menteri Pertahanan Yasar Guler, dan Kepala Staf Umum Selcuk Bayraktaroglu ke dalam pertemuan itu.

Delegasi Pakistan yang rencananya hadir yaitu Menteri Luar Negeri Ishaq Dar, Menteri Pertahanan Khawaja Asif, dan Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir.

Lalu Arab Saudi akan mengutus Menteri Luar Negeri Faisal bin Farhan, Menteri Pertahanan Khalid bin Abdulaziz, dan Kepala Staf Umum Fayyad Al Ruwaili.

Perjanjian Pertahanan Gabungan Mekkah ditandatangani pada 7 Agustus 2026 yang mengukuhkan tentang penguatan upaya pencegahan bersama dengan menganggap serangan bersenjata kepada satu pihak dianggap sebagai serangan kepada ketiga negara itu.

Perjanjian itu juga mencakup perluasan kerja sama militer, koordinasi, dan program gabungan industri pertahanan.

Menurut Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, perjanjian itu tidak bertujuan melawan negara manapun, dan terbuka bagi negara di kawasan yang menginginkan terciptanya perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia