Pekanbaru - Pohon kopi identik dengan ketinggian. Seolah sudah dijodohkan, pohon kopi dan pekatnya embun pegunungan selalu beradu di pagi hari.
Daun hijaunya tumbuh di lereng pegunungan, menyukai udara sejuk dan tanah yang berada ratusan hingga ribuan meter di atas permukaan laut. Bayangan tentang kopi pun kerap membawa imajinasi kita pada kebun-kebun di dataran tinggi.
Namun, di Kepulauan Meranti, Riau, cerita berjalan ke arah berbeda, seperti sebuah spin-off dari alur cerita utama.
Di sana, pohon kopi justru tumbuh di atas tanah gambut. Bukan di lereng gunung, melainkan di dataran rendah dengan ketinggian hanya 1 hingga 3 meter di atas permukaan laut.
Bagi Roni Suprianto, pemilik Kopi Nganu di Pekanbaru, keunikan tersebut bukan sekadar anomali. Ia justru melihatnya sebagai alasan kuat mengapa Liberika Meranti layak diperkenalkan lebih luas.
"Yang ingin saya angkat itu kopi lokal Riau, khususnya Liberika Meranti," kata Roni.
Ada karakter khas dari kopi ini ketika diseduh. Aromanya mengarah ke cokelat, lalu diikuti sedikit jejak nangka. Karakter ini berbeda dari Arabika dan Robusta yang selama ini lebih akrab bagi penikmat kopi.
Seolah-olah, tanah tempatnya tumbuh meninggalkan jejak pada setiap biji. Tanah gambut yang lembap, dataran rendah yang nyaris sejajar dengan permukaan laut, serta lingkungan pesisir Kepulauan Meranti menjadi bagian dari perjalanan panjang kopi ini sebelum hadir di dalam cangkir.
"Apakah di Meranti ada kopi?"
Pertanyaan yang terdengar sederhana itu sekaligus menunjukkan betapa belum dikenal luasnya Liberika Meranti.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.