Islamabad - Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, Rabu (2/9), memperbarui seruannya untuk mengganti gencatan senjata yang mengakhiri pertempuran dalam Perang Korea dengan rezim perdamaian permanen di Semenanjung Korea.
"Untuk mencegah timbulnya kembali ketegangan karena perubahan dalam politik dalam negeri atau perubahan situasi internasional, (kita) harus mengganti gencatan senjata, yang didasarkan pada konflik dan konfrontasi, dengan rezim perdamaian yang didasarkan pada kerja sama dan kemakmuran," kata Lee, menurut Yonhap News yang berbasis di Seoul.
Saat berbicara pada pertemuan unit badan penasihat presiden Amerika mengenai unifikasi di Incheon, Lee mengatakan Korea Selatan harus membantu membuka jalan bagi pembaruan dialog Korea Utara-AS, dengan berupaya memanfaatkan keterlibatan kembali Presiden AS Donald Trump dengan Pyongyang untuk memperbaiki hubungan antar-Korea yang tegang.
"Karena kemungkinan perubahan situasi di Semenanjung Korea, betapapun kecilnya, disebabkan oleh tekad Presiden Trump, kita harus menjadi pihak yang menciptakan lingkungan untuk diskusi konstruktif mengenai membangun kepercayaan dan melanjutkan dialog antara AS dan Korea Utara," katanya.
Dalam pidatonya di Hari Pembebasan bulan lalu, Lee mengusulkan agar kedua Korea memulai perundingan untuk secara resmi mengakhiri konflik berkepanjangan mereka dan membahas cara-cara praktis untuk menghentikan kemajuan program nuklir Pyongyang.
Seoul dan Pyongyang secara teknis masih berperang sejak Perang Korea tahun 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata dan bukan perjanjian damai.
Lee mengatakan kedua pihak membuang-buang energi mereka pada konfrontasi yang "tidak perlu", dan menyebutnya sebagai kenyataan yang "disayangkan" dan "tragis" yang harus dibalik.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.