Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Provinsi Bali sedang mengejar bukan hanya emisi nol atau bersih namun juga mandiri energi guna menjaga kualitas serta keberlanjutan ekosistem lingkungan hidup di Pulau Dewata.
"Bali tidak hanya mengejar Net Zero Emission, agenda utamanya Bali mandiri energi, sumber energinya bersih, baru dan terbarukan," kata Wayan Koster saat menerima audiensi Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Bali Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo).
Koster dalam keterangan di Denpasar, Sabtu, menjelaskan bahwa kebijakan energi bersih ini berangkat dari keinginan fundamental untuk membangun Bali yang memiliki lingkungan bersih dan berkualitas bukan sekadar memenuhi agenda global semata.
Fokus utama kebijakan tersebut adalah memastikan udara yang dihirup masyarakat berkualitas, lingkungan tetap bersih, polusi dapat ditekan, masyarakat hidup sehat, serta pangan yang dikonsumsi berkualitas.
Untuk memperkuat pengelolaan lingkungan hidup, Gubernur Bali menekankan bahwa kebijakan energi bersih wajib berjalan beriringan dengan perluasan dan rehabilitasi hutan, serta peningkatan penanaman pohon guna menambah pasokan oksigen alami.
Pembangunan Bali ke depan diarahkan secara ketat agar lingkungan tidak kembali dikotori oleh polusi.
Pemprov Bali juga mendorong transformasi sistem energi Bali dengan mengurangi secara bertahap ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil, termasuk pasokan listrik sekitar 35 MW dari Paiton yang masih menggunakan batu bara.
Transformasi ini telah masuk dalam rencana sistem kelistrikan PLN dan prosesnya sedang berjalan.
Ke depan, Pemprov Bali mengarahkan peningkatan pemanfaatan energi bersih dari berbagai potensi alam lokal, seperti tenaga surya, tenaga gas, energi gelombang, hingga energi angin.
Salah satu strategi utamanya adalah percepatan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah dan fasilitas umum lainnya melalui surat edaran gubernur.
Upaya ini mendapat dukungan dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian ESDM dengan alokasi kapasitas PLTS di Bali hingga 1.500 MW.
"Dengan demikian kualitas udara bagus, polusi turun, penyakit juga menurun, itu target saya," ujar Koster.
Menurut dia, keberhasilan menekan energi fosil akan berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Langkah konkret Bali dalam mendorong kebijakan energi bersih ini pun mendapat apresiasi internasional, di mana Gubernur Koster turut diundang ke London untuk membahas implementasi kebijakan perubahan energi global tersebut.
Atas target energi bersih sekaligus kemandirian, Ketua DPP Pertalindo Bali I Ketut Gede Dharma Putra menyatakan komitmennya untuk mendukung Pemprov Bali melalui pemanfaatan kompetensi tenaga ahli, lembaga sertifikasi, dan laboratorium terakreditasi di bidang lingkungan hidup.
Pertalindo Bali juga mengundang Gubernur Koster untuk membuka sekaligus Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dan Konferensi Internasional bertema Pemanfaatan Energi Bersih di Bali Menuju Net Zero Emission 2045 pada 22 September 2026.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.