Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Mandiri Sekuritas proyeksi IHSG capai level 6.810 pada akhir 2026

NadiKabar Biro
Mandiri Sekuritas proyeksi IHSG capai level 6.810 pada akhir 2026
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Mandiri Sekuritas proyeksi IHSG capai level 6.810 pada akhir 2026.

Jakarta - PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 6.810 pada akhir 2026.

Meski demikian, ada potensi IHSG menguat hingga level 7.470 dalam skenario optimistis (bull case), dengan asumsi terjadi penurunan tingkat imbal hasil bebas risiko ekuitas (equity risk-free rate).

“Yang mendasari proyeksi IHSG kami, di mana kami memproyeksikan bahwa nanti di akhir tahun 2026 IHSG harusnya bisa berkutat di 6.810. Proyeksi kami secara bull case-nya, jika memang adanya equity risk-free yang lebih baik, misalkan direfleksi dengan equity risk-free rate yang lebih rendah lagi, itu harusnya bisa ke 7.500 untuk bull case-nya,” kata Head of Equity Research, Equity Strategist, Banking Analyst Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dalam Mandiri Macro & Market Brief Q3 2026 secara virtual, di Jakarta, Kamis.

Selain IHSG, Kresna mencermati pergerakan indeks IDX80 dengan lebih optimistis (bullish).

Indeks yang terdiri atas 80 saham dengan likuiditas tinggi tersebut diproyeksikan berpotensi menguat sekitar 8-10 persen dari posisi saat ini, menuju level 107,2 dalam skenario dasar (base case) dan 122,1 dalam skenario optimistis (bull case).

Proyeksi positif terhadap IDX80 ditopang oleh pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) yang stabil di kisaran 11 persen.

Selain itu, IDX80 dinilai semakin strategis karena kerap menjadi tolok ukur (benchmark) utama bagi investor lokal dalam mengukur kinerja dana kelolaan mereka.

“Dengan demikian kami memproyeksikan tingkat kenaikan nilai yang lebih tinggi ya, di IDX80 seiring dengan potensi perbaikan flows ke emiten-emiten blue chip nasional yang mungkin lebih utuh terpresentasi oleh IDX80,” katanya pula.

Dari hasil riset Mandiri Sekuritas, Kresna memaparkan empat faktor tematik utama yang berpotensi mendorong pergerakan pasar saham domestik.

Pertama, valuasi pasar saham saat ini berada pada tingkat diskon yang signifikan akibat risiko makro global dan tingginya biaya modal (cost of capital).

Pemulihan valuasi diperkirakan tidak terjadi secara merata, melainkan berfokus pada sektor-sektor tertentu yang didukung stabilitas mata uang dan penyerapan aliran modal menjelang musim dividen.

Kedua, dukungan industri komoditas dan hilirisasi.

Kinerja emiten diperkirakan terdorong oleh penguatan industri bullion nasional serta proyek hilirisasi mineral, seperti emas, tembaga, nikel, batu bara, dan minyak kelapa sawit (CPO). Diversifikasi energi nasional juga dinilai memberikan keuntungan jangka panjang bagi korporasi terkait.

Ketiga, kebijakan fiskal pro-rakyat dan stabilitas rupiah.

Moderasi belanja pemerintah pada semester II-2026 dilakukan untuk menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan anggaran tetap berfokus pada pengentasan kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan.

Keempat, reformasi industri berbasis negara (state-driven reforms).

Dorongan peningkatan peran negara, seperti pembentukan jaringan logistik nasional melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), sentralisasi ekspor komoditas melalui Danantara, serta restrukturisasi BUMN, dinilai bakal menggeser rotasi sektor pilihan investor ke arah ketahanan energi, pangan, dan perbankan syariah.

Atas dasar tersebut, Mandiri Sekuritas memandang sektor emas dan tembaga, nikel, minyak dan gas, kesehatan, rokok, serta keuangan sebagai sektor yang berpotensi memberikan kinerja positif di pasar modal.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia