Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Mau Wisata Seks? Negara Ini Geger Kapal Perang AS Mau Mampir

NadiKabar Biro
Mau Wisata Seks? Negara Ini Geger Kapal Perang AS Mau Mampir
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Mau Wisata Seks? Negara Ini Geger Kapal Perang AS Mau Mampir.

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah penugasan panjang di Timur Tengah, sebuah kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) akan berlabuh di kota resor Pattaya, Thailand. Kapal perang bernama USS Abraham Lincoln tersebut akan datang Rabu dengan dua kapal Angkatan Laut pendamping, dan berlabuh di Laem Chabang.

Kedatangan ini sebenarnya memunculkan harapan akan adanya dorongan ekonomi ke Thailand. Namun ini juga membuat kontroversi terkait wisata seks, yang tengah menghadapi sejumlah langkah tegas otoritas.

Menurut pejabat Thailand, kunjungan ini bertujuan memberikan kesempatan bagi hampir 5.000 pelaut dan marinir AS untuk beristirahat, termasuk memulihkan diri setelah lebih dari 200 hari berada di laut. Tapi, menjelang kedatangan kapal tersebut, polisi mempersiapkan patroli tambahan di sekitar kawasan utama tepi pantai dan distrik hiburan malam Pattaya.

Mengutip Reuters, Senin (31/8/2026), langkah ini menyusul razia akhir pekan lalu yang mengakibatkan penahanan 40 hingga 50 orang atas dugaan keterlibatan dalam prostitusi. Perlu diketahui, Biro Investigasi Federal (FBI) AS, satu dekade lalu menyebut Pattaya sebagai "salah satu destinasi wisata seks terkemuka di dunia".

"Kami berupaya semaksimal mungkin, namun hal ini sulit," ujar Kepala Polisi Pattaya, Anek Srathongyoo.

Ia menjelaskan bahwa pekerja seks berpotensi menawarkan jasa mereka di tempat umum tanpa sepengetahuan pihak berwenang. Padahal, prostitusi adalah tindakan ilegal di Thailand.

"Ada risiko terhadap kesehatan dan keselamatan, karena masuknya pelanggan dalam jumlah besar dapat meningkatkan kemungkinan eksploitasi seksual dan penyebaran penyakit menular seksual," ujar seorang lektor kepala di Fakultas Humaniora dan Manajemen Pariwisata Universitas Bangkok, Pipatpong Fakfare.

"Dampak komersial secara keseluruhan terhadap Pattaya- yang memiliki lebih dari 300.000 kamar- sebagian akan bergantung pada lokasi yang dipilih para personel untuk menghabiskan waktu mereka, mengingat sebagian di antaranya mungkin bepergian ke ibu kota Bangkok," tambahnya.

Sebenarnya, Abraham Lincoln bertolak dari pangkalan utamanya di San Diego pada bulan November dan kemudian dialihkan ke Timur Tengah untuk mendukung operasi militer dalam konflik AS-Israel melawan Iran. Keberadaan kapal induk itu di laut, mencetak rekor modern, terlama berturut-turut, menurut para anggota parlemen AS terutama oposisi pemerintah yakni Partai Demokrat.

Penugasan yang berkepanjangan ini juga memicu laporan mengenai masalah kesehatan mental dan kondisi yang memburuk di atas kapal. Dua media yang berfokus pada isu militer bulan ini melaporkan adanya upaya bunuh diri dan penurunan moral di kapal tersebut.

Pattaya sendiri sebenarnya adalah sebuah desa nelayan yang sebagian telah berubah menjadi pusat wisata berkat kedatangan tentara AS yang mencari hiburan selama Perang Vietnam.

Diyakini, setiap personel militer AS dapat menghabiskan antara 1.000 hingga 3.000 baht (Rp535 ribu-Rp1,61 juta) per hari, tergantung pada durasi mereka berada di darat dan apakah mereka menginap.

Izin turun ke darat biasanya dilakukan secara bergilir. Ini berarti tidak semua personel akan turun dari kapal pada waktu yang bersamaan.

"Hal ini diharapkan dapat mendorong perekonomian Pattaya dalam jangka pendek," ujar Wali Kota Pattaya, Poramase Ngampiches.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia