Banjarbaru - Selama satu bulan terakhir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus meluas di berbagai kabupaten dan kota.
Salah satu wilayah paling terdampak adalah Banjarbaru, ibu kota Kalimantan Selatan, di mana api banyak membakar ekosistem alami berupa hamparan rumput dan pohon-pohon di lahan semak belukar tanpa garapan.
Tiga wilayah menjadi langganan kebakaran lahan saat musim kemarau di Banjarbaru, yakni kawasan Guntung Damar hingga Tegal Arum yang masuk area ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor.
Kemudian hutan lindung Liang Anggang dan wilayah Pengayuan di Kelurahan Landasan Ulin Selatan atau perbatasan dengan Kabupaten Tanah Laut.
Celakanya, karhutla di kota ini berdampak langsung terhadap penerbangan di bandara ketika kabut asap tebal memaksa pesawat berhenti beroperasi.
Petugas gabungan dari berbagai unsur pemerintah yang dilengkapi sarana pemadaman sudah dikerahkan. Relawan pun ikut berperan dengan sumber daya seadanya.
Namun faktanya, api terus membakar lahan dan meluas dari hari ke hari.
Efektivitas penanggulangan karhutla pun banyak dipertanyakan. Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan tingkat kedalaman bervariasi.
Api tidak hanya membakar apa yang terlihat di permukaan. Bara dapat menjalar di bawah tanah sehingga sulit dipadamkan sepenuhnya dari permukaan.
Artinya, persoalan pemadaman bukan semata bagaimana memburu api yang terlihat, tetapi bagaimana memastikan bara di dalam gambut benar-benar padam sekaligus membuat lahan kembali basah.
Kondisi inilah yang mendorong Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr Rosyanto Yudha Hermawan mencari cara yang lebih efektif untuk melakukan pemadaman sekaligus pembasahan lahan gambut yang terbakar.
Para ahli lintas bidang dari personel Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Kalsel dikumpulkannya untuk berdiskusi membahas penanggulangan karhutla.
Begitu juga para pakar di bidang lahan basah dari Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) digandengnya.
Polda Kalsel juga berkolaborasi dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang berpengalaman menggarap lahan untuk perkebunan.
Dari rangkaian diskusi dan kolaborasi tersebut kemudian muncul tiga inovasi taktis untuk pemadaman karhutla: pembuatan kolam bioflok atau kolam terpal portabel, pembuatan formula kimia khusus buatan Bidlabfor Polda Kalsel yang dicampurkan ke dalam kolam penampungan air, serta pembuatan pipa undercooling system atau pipa suntik gambut.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.