Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Mengenal bahaya angin duduk, apa yang sebenarnya terjadi?

NadiKabar Biro
Mengenal bahaya angin duduk, apa yang sebenarnya terjadi?
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Mengenal bahaya angin duduk, apa yang sebenarnya terjadi?.

Jakarta - Istilah “angin duduk” sudah cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kondisi ini sering dikaitkan dengan nyeri dada yang datang tiba-tiba dan bahkan dianggap bisa menyebabkan seseorang meninggal secara mendadak.

Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan angin duduk?

Dalam dunia medis, istilah “angin duduk” bukanlah nama penyakit. Istilah tersebut umumnya digunakan masyarakat untuk menggambarkan angina pektoris, yaitu nyeri atau rasa tidak nyaman di dada akibat otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup.

Karena itu, angin duduk tidak sama dengan “masuk angin”. Keduanya merupakan istilah yang berbeda dan tidak memiliki hubungan sebab-akibat seperti yang selama ini mungkin dipercaya sebagian orang. Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa anggapan masuk angin dapat menyebabkan penyakit jantung yang disebut angin duduk adalah keliru.

Apa yang sebenarnya terjadi saat angin duduk?

Jantung membutuhkan pasokan darah yang membawa oksigen agar dapat bekerja dengan baik. Pasokan tersebut diperoleh melalui pembuluh darah koroner.

Pada penyakit jantung koroner, pembuluh darah ini dapat mengalami penyempitan akibat penumpukan plak. Ketika seseorang melakukan aktivitas atau mengalami kondisi yang membuat jantung bekerja lebih keras, kebutuhan oksigen jantung meningkat.

Jika aliran darah tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, muncullah rasa nyeri atau tidak nyaman di dada yang disebut angina.

Keluhan tersebut dapat terasa seperti dada ditekan, tertindih, diremas atau terasa penuh. Rasa tidak nyaman juga dapat menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, punggung atau bagian tubuh lainnya. Beberapa orang juga dapat mengalami sesak napas, mual, berkeringat atau pusing.

Angin duduk tidak selalu berarti serangan jantung

Hal ini juga penting dipahami. Angina dan serangan jantung memang sama-sama berkaitan dengan kurangnya aliran darah ke otot jantung, tetapi keduanya bukan kondisi yang sama.

Pada angina stabil, keluhan biasanya muncul ketika seseorang melakukan aktivitas atau mengalami stres dan dapat membaik setelah beristirahat. Sementara itu, angina tidak stabil dapat muncul secara tiba-tiba, termasuk ketika seseorang sedang beristirahat.

Angina tidak stabil merupakan kondisi darurat karena dapat menjadi tanda adanya masalah serius pada pembuluh darah jantung dan dapat berkembang menjadi serangan jantung.

Serangan jantung sendiri terjadi ketika aliran darah ke bagian otot jantung berkurang atau tersumbat sehingga otot jantung dapat mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan medis secepat mungkin.

Apa saja gejala yang perlu diperhatikan?

Gejala angina dapat berbeda pada setiap orang. Namun, beberapa keluhan yang perlu diperhatikan antara lain:

Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami serangan jantung karena nyeri dada dapat disebabkan berbagai kondisi. Namun, keluhan baru atau nyeri dada yang tidak biasa sebaiknya tidak dianggap sepele.

Mengapa angin duduk bisa berbahaya?

Bahaya utama dari istilah “angin duduk” adalah ketika seseorang menganggap nyeri dada hanya sebagai masuk angin, kelelahan atau masalah pencernaan sehingga menunda pemeriksaan.

Padahal, nyeri dada dapat menjadi tanda adanya masalah pada jantung. American Heart Association menyebut sindrom koroner akut sebagai kondisi ketika aliran darah ke otot jantung tiba-tiba berkurang atau berhenti dan membutuhkan pertolongan medis segera.

Terlebih jika nyeri dada terasa berat, berlangsung beberapa menit atau hilang kemudian muncul kembali, disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau nyeri yang menjalar ke lengan, rahang, leher maupun punggung.

Dalam kondisi seperti itu, jangan menunggu sampai keluhan benar-benar hilang dengan sendirinya.

Siapa yang lebih berisiko?

Risiko penyakit jantung koroner dan angina dapat meningkat karena sejumlah faktor. Kementerian Kesehatan mencatat beberapa faktor risiko, antara lain kolesterol tinggi, diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, kurang berolahraga, stres, serta adanya riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Karena sebagian faktor risiko berkaitan dengan gaya hidup, menjaga kesehatan sejak dini tetap penting. Pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang sesuai usia, tidak merokok dan melakukan pemeriksaan kesehatan bila diperlukan merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Kapan harus segera mencari pertolongan?

Jika seseorang mengalami nyeri atau tekanan di dada yang baru muncul, berat, menetap, semakin memburuk, atau disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing maupun nyeri yang menjalar ke bagian tubuh lain, jangan mencoba menebak penyebabnya sendiri.

Segera cari pertolongan medis darurat. Penanganan yang cepat pada kondisi serangan jantung atau sindrom koroner akut dapat membantu mengurangi kerusakan pada otot jantung.

Intinya, “angin duduk” bukanlah akibat tubuh kemasukan angin. Istilah tersebut lebih sering digunakan untuk menggambarkan keluhan yang berkaitan dengan angina atau gangguan aliran darah ke otot jantung.

Karena itu, nyeri dada sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan ringan, apalagi jika muncul secara tiba-tiba atau disertai gejala lain. Mengenali tanda-tandanya dan tidak menunda pemeriksaan dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia