Bandarlampung - Upaya mencegah konflik manusia dan gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung kini tidak hanya mengandalkan pagar pembatas.
Pendekatan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat mulai dikembangkan agar lahan warga tidak lagi menarik untuk didatangi gajah.
Selama ini pagar besi dan pengusiran dianggap sebagai satu-satunya cara meredam amukan gajah yang keluar dari hutan. Namun, cara itu mulai ditinggalkan.
Pendekatan baru mulai dikembangkan. Lahan warga dibuat sedemikian rupa agar tidak lagi menarik bagi gajah, sementara tanaman dan hewan yang tidak disukai satwa itu justru dibudidayakan sebagai sumber penghasilan masyarakat.
Gagasannya sederhana: jika gajah tidak menyukai sesuatu, mengapa tidak menanam atau memeliharanya di sekitar permukiman?
Serai dan lebah menjadi dua pilihan. Aroma serai yang tajam dan sengatan lebah diyakini membuat gajah enggan mendekat. Pada saat yang sama, keduanya memiliki nilai ekonomi. Lebah menghasilkan madu, sementara serai dapat diolah menjadi minyak atsiri.
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan mitigasi konflik tidak berhenti pada pembangunan pembatas fisik. Pendekatan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat juga dikembangkan.Salah satunya dengan melatih masyarakat membudidayakan tanaman dan hewan yang tidak disukai gajah, seperti serai dan lebah.
Menurut Kristomei, kedua komoditas itu diharapkan membantu menjaga agar gajah tidak keluar dari kawasan hutan. Pada saat yang sama, hasil budidayanya dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber penghasilan.
Lebah memiliki fungsi yang lebih dari sekadar menghasilkan madu. Dengungannya dapat memicu respons waspada pada gajah dan membuat satwa itu menjauh. Karena itu, kotak-kotak lebah ditempatkan sebagai bagian dari strategi mitigasi sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, mengatakan sekitar 900 kotak lebah yang sebelumnya dibagikan kepada masyarakat telah menghasilkan panen.
Kini, koloni-koloni tersebut mulai dipecah untuk memperbanyak jumlahnya. Dari sekitar 900 kotak yang telah dibagikan, jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 1.500 kotak.
"Kalau kemarin kita lihat semua boks yang kita serahkan, minggu depan mungkin sudah menjadi 1.500 boks lebah," ujar Sriyanto di TNWK, Selasa (1/9).
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.