Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno mengatakan, pemenuhan spesialis, seperti dalam Program PPDS RSPPU, jadi contoh bahwa layanan harus didasarkan pada kebutuhan rumah sakit dan publik, bukan sekadar kesiapan universitas membuka program studi.
Hal itu dia sampaikan dalam Peluncuran Seleksi Program Studi Baru RS Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU) dan Serah Terima Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Batch IV ke RSPPU di Jakarta, Kamis.
"Pada akhirnya kita bisa merealisasikan sebuah mimpi dari pelayanan publik, yaitu customer first, citizen first, demand driven," kata Pratikno di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan pelayanan publik yang mengutamakan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, mencetak dokter bukan didasarkan kepada kesiapan program studi atau universitas dalam membuka program studi spesialis, tetapi didasarkan kepada berapa kebutuhan dokter spesialis dan di rumah sakit mana.
Pratikno menilai, pelayanan publik seharusnya tidak berorientasi pada seberapa besar kemampuan pemerintah menyediakan layanan, tetapi pada kebutuhan masyarakat sebagai penerima layanan.
Pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat tersebut merupakan bagian dari misi besar transformasi pelayanan publik yang telah dirancang sejak lama dan mulai terealisasi dalam beberapa tahun terakhir.
Dia menegaskan, transformasi pelayanan publik merupakan proses yang harus terus diperbaiki dan tidak dapat selesai dalam satu tahapan.
"Tidak ada sebuah transformasi yang sekali jadi. Ini hanyalah sebuah journey, sebuah perjalanan panjang yang terus menerus harus diperbaiki," kata Pratikno.
Dia pun mengapresiasi kerja keras semua pihak yang terlibat dalam upaya meningkatkan pemenuhan dokter spesialis dan pelayanan kesehatan di Indonesia, seperti melalui pembukaan 25 program studi PPDS.
"Pak Presiden pasti senang sekali mendengar cerita ini karena kita merealisasikan sebuah misi besar bahwa pelayanan publik didasarkan kepada kepentingan warga, kepentingan masyarakat," ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, Pratikno berharap penyediaan dokter spesialis dapat semakin selaras dengan kebutuhan masyarakat dan rumah sakit di berbagai daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Azhar Jaya mengatakan, seleksi untuk 25 prodi PPDS baru sudah dibuka.
Program studi yang ditawarkan antara lain tujuh spesialisasi dasar dan spesialis untuk kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi (KJSU).
Di antara RS yang tergabung sebagai RSPPU termasuk RS swasta yakni RS Hermina Depok, RS milik TNI yakni RSPAD Gatot Subroto, dan RS milik organisasi keagamaan yakni RS Islam Muhammadiyah Jakarta Cempaka Putih.
Azhar mengatakan, pihaknya juga menyerahkan sebanyak 54 peserta didik PPDS yang tergabung dalam batch keenam ke RS-RS pendidikan.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.