Istanbul - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding sejumlah elemen di dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) beserta aktor-aktor yang bersekutu dengan Israel berupaya memanipulasi pasar energi global dan memperpanjang konflik militer dengan Teheran.
"Data intelijen kami menunjukkan adanya upaya besar untuk memanipulasi pasar energi," kata Araghchi melalui platform media sosial X, Sabtu.
Araghchi mengklaim bahwa elemen-elemen di lingkungan pemerintahan AS memanfaatkan "media yang mudah percaya" untuk memengaruhi harga energi demi keuntungan pribadi, sekaligus menjebak Presiden AS Donald Trump dalam "perang yang merugikan.”
"Aktor-aktor yang berafiliasi dengan Israel juga terus mendorong perang melalui penilaian-penilaian yang semu," ujar Araghchi, seraya menambahkan bahwa konsumen di AS kini mulai merasakan dampak ekonomi dari langkah tersebut.
Meski demikian, Menlu Iran tersebut tidak memberikan bukti konkret atau rincian lebih lanjut untuk mendukung tuduhannya.
Pernyataan itu disampaikan di tengah kecamuk perang antara AS-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari dan telah berdampak signifikan terhadap keamanan energi serta maritim regional.
Konflik tersebut berpusat di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang biasanya dilalui oleh sebagian besar pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Saat ini, Iran membatasi lalu lintas pelayaran di selat tersebut, sementara AS menerapkan blokade laut serta memperketat sanksi ekonomi terhadap Teheran.
Iran dan AS telah mencapai nota kesepahaman (MoU) pada Juni lalu untuk menghentikan permusuhan—yang mencakup ketentuan terkait Selat Hormuz, pemulihan blokade laut AS, dan penghapusan sanksi.
Teheran menegaskan bahwa normalisasi penuh atas navigasi di Selat Hormuz sangat bergantung pada komitmen Washington dalam menjalankan poin-poin kesepakatan tersebut.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.