Jakarta - Perusahaan pertambangan batu bara PT Multi Harapan Utama (MHU) menyatakan pemanfaatan kolam pascatambang di Desa Sungai Payang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, telah menyediakan akses air bersih bagi 582 kepala keluarga.
Presiden Direktur MHU Kemal Djamil Siregar mengatakan pemanfaatan kolam atau void pascatambang tersebut menjadi bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang diarahkan agar aset pascatambang dapat tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami tidak hanya melihat void sebagai bagian dari proses pascatambang, tetapi sebagai aset yang dapat dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat,” kata Kemal dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Senin.
Fasilitas air bersih tersebut menggunakan tiga unit pompa hidram yang memanfaatkan energi kinetis air, sehingga dapat bekerja tanpa listrik maupun bahan bakar serta Water Treatment Plant (WTP) berkapasitas 126 meter kubik.
Jaringan distribusi air mencapai lebih dari 3,6 kilometer dan melayani tiga dusun di Desa Sungai Payang, yakni Donomulyo, Sentuk, dan Rempanga.
Pengelolaan fasilitas turut melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Payang Sejahtera sebagai bagian dari upaya agar masyarakat berperan dalam keberlanjutan layanan air bersih tersebut.
Selain mengelola layanan air, BUMDes Payang Sejahtera mengembangkan sejumlah unit usaha, antara lain katering, laundry, housekeeping, dan pabrik kompos.
MHU mencatat omzet BUMDes tersebut meningkat dari Rp4,6 miliar pada 2019 menjadi Rp27,6 miliar pada 2023, setelah pengembangan usaha dan pendampingan yang berjalan sejak 2017.
“Target kami bukan membuat masyarakat bergantung pada perusahaan, tetapi membangun institusi ekonomi desa yang mampu berdiri dan berkembang secara mandiri,” ujar Kemal.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebelumnya juga mencatat BUMDes Payang Sejahtera sebagai salah satu BUMDes yang menerapkan pola kemitraan dengan dunia usaha.
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kutai Kartanegara pada 2024 menilai kemitraan tersebut ikut meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat setempat.
Program pemberdayaan lainnya dilakukan melalui Rumah Cokelat Lung Anai di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu, yang mengembangkan komoditas kakao masyarakat melalui pengolahan dari biji menjadi produk bernilai tambah.
Berdasarkan data MHU, lebih dari 100 petani yang terlibat dalam program tersebut mengalami peningkatan pendapatan hingga lima kali lipat.
Kakao kering fermentasi dijual pada kisaran Rp120.000-Rp150.000 per kilogram (kg), dibandingkan biji basah yang sebelumnya berada pada kisaran Rp25.000-Rp30.000 per kg.
Perusahaan mencatat sebanyak 12 perempuan setempat juga terlibat dalam kegiatan pengolahan kakao, sedangkan pengembangan program melibatkan Kelompok Tani Lalut Isau, BUMDes, Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara, Yayasan Peduli Desa Nusantara Madani, serta Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara.
Program air bersih pascatambang, penguatan BUMDes Payang Sejahtera, penguatan KUBE Koetai Harapan Utama, dan Rumah Cokelat Lung Anai menjadi bagian dari PPM MHU yang diperkenalkan dalam ajang Investortrust CSR Awards 2026, di Jakarta, Kamis (27/8).
MHU memperoleh Impactful Program Awards dalam ajang tersebut. Penyelenggara menyatakan penilaian CSR 2026 mengacu pada empat pilar, yakni dampak yang terukur, ketangguhan, inklusivitas, serta kemampuan program menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.