Jakarta - Lembaga riset NEXT Indonesia Center mengusulkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) difokuskan pada pengelolaan data dan pengawasan ekspor sumber daya alam (SDA) untuk memperkuat tata kelola komoditas strategis nasional.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko mengatakan usulan tersebut didasarkan pada kajian mengenai risiko operasional dan fiskal apabila badan usaha negara mengambil peran sebagai offtaker komersial.
“Peran offtaker menuntut likuiditas dan modal kerja masif yang berisiko membebani APBN, serta memusatkan risiko komersial seperti fluktuasi harga global, mutu, logistik, dan gagal bayar pada negara,” kata Christiantoko dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.
NEXT Indonesia Center merekomendasikan DSI didesain sebagai pintu tunggal integrasi data dan pendukung pemantauan risiko, bukan sebagai pembeli tunggal atau perantara komersial yang bersifat monopoli.
Christiantoko menyebut TradeNet di Singapura dan Automated Commercial Environment (ACE) di Amerika Serikat (AS) sebagai model pusat integrasi data yang dapat menjadi pembanding dalam penguatan pengawasan.
“Sebaliknya, peran pusat integrasi data berbasis TradeNet Singapura atau Automated Commercial Environment (ACE) Amerika Serikat jauh lebih efektif memperkuat pengawasan tanpa mendistorsi pasar,” ujarnya.
Rekomendasi itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Perdagangan Ekspor Sumber Daya Alam: Peran Trading Company dalam Rantai Nilai Global dan Implikasinya bagi Indonesia” yang digelar NEXT Indonesia Center.
Diskusi tersebut melibatkan regulator dari Kementerian Perdagangan, anggota Komisi VI DPR RI, serta akademisi untuk membahas arah tata kelola ekspor komoditas strategis nasional.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.