Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

NPC tegaskan pentingnya sinergisitas dengan Kemenpora

NadiKabar Biro
NPC tegaskan pentingnya sinergisitas dengan Kemenpora
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait NPC tegaskan pentingnya sinergisitas dengan Kemenpora.

Jakarta - National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) menegaskan pentingnya sinergisitas dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) agar pembinaan olahraga prestasi penyandang disabilitas berjalan akuntabel dan tepat sasaran.

Pernyataan tersebut disampaikan NPC Indonesia merespons perbincangan publik di media sosial mengenai penggalangan dana yang dilakukan sejumlah atlet disabilitas rungu atau tuli untuk mengikuti kejuaraan internasional.

Dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Senin (31/8), NPC Indonesia menegaskan dukungan pemerintah pusat melalui Kemenpora selama ini telah berjalan maksimal.

Mereka pun menyebut atlet yang telah berprestasi maupun atlet muda dengan prospek menjanjikan mendapatkan fasilitas untuk tampil di berbagai kejuaraan internasional.Kepala Departemen Hukum NPC Indonesia, Satriawan Sulaksono, mengatakan pengiriman atlet ke kejuaraan internasional, baik di level Asia maupun dunia, dilakukan melalui perencanaan jangka panjang serta proses konsolidasi bersama Kemenpora.

“Keikutsertaan atlet NPC Indonesia dalam kejuaraan internasional merupakan bagian dari rangkaian uji coba pemusatan latihan nasional menuju Paralimpiade yang bertujuan mengumpulkan poin demi memenuhi syarat kualifikasi, melalui proses perencanaan dan review dengan Kemenpora sebelumnya,” kata Satriawan.

Satriawan menambahkan, penentuan kejuaraan yang diikuti atlet maupun kontingen NPC Indonesia wajib melalui proses konsolidasi antara organisasi pembina dan Kemenpora. Dengan demikian, keberangkatan atlet tidak ditetapkan sepihak, melainkan berdasarkan perencanaan dan evaluasi prestasi.

Terkait pembinaan atlet disabilitas rungu atau tuli, Satriawan menyebut status keanggotaan International Committee of Sports for the Deaf (ICSD) menjadi syarat bagi suatu negara untuk mengirimkan kontingen ke ajang olahraga tuli internasional, Deaflympics.

“Sebagaimana NPC Indonesia bernaung di bawah IPC, APC, dan APSF, maka pembinaan olahraga prestasi tuna rungu di Indonesia seharusnya bernaung pada organisasi yang diakui oleh ICSD sebagai lembaga tertinggi olahraga tuna rungu,” ujar Satriawan.

Dia juga meminta atlet tuli yang ingin berprestasi di tingkat internasional tidak perlu khawatir mengenai dukungan pemerintah.

“Pemerintah melalui Kemenpora sangat berkomitmen mendukung kemajuan dan prestasi olahraga disabilitas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tutur Satriawan.

Menurut Satriawan, langkah administratif dan konsolidasi perlu segera dituntaskan agar persoalan tersebut tidak menimbulkan kesimpangsiuran di ruang publik.

Dia berharap pula seluruh atlet tuli dapat berhimpun di bawah organisasi yang memiliki pengakuan internasional sehingga persiapan teknis dan kebutuhan fasilitas dapat dikoordinasikan secara terstruktur bersama Kemenpora.

Di Indonesia, organisasi yang disebut memiliki keanggotaan yang diakui ICSD adalah Patrin (Perkumpulan Atlet Tunarungu Indonesia).

“Kami berharap seluruh atlet tunarungu yang saat ini aktif bisa bergabung atau berkomunikasi dengan Patrin, sehingga bisa mengikuti event-event internasional yang diselenggarakan,” kata Satriawan.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) NPC Indonesia, Rima Ferdianto, menegaskan NPC Indonesia tidak dapat mengintervensi persoalan yang kini menjadi pembahasan publik karena NPC Indonesia dan Patrin berada di bawah organisasi internasional yang berbeda.“Kemenpora juga sudah mengundang, siapa organisasi yang berhak menangani atlet tunarungu dengan membawa semua legalitas dan dokumen, mereka yang menunjukkan bahwa mereka adalah member dari federasi internasional. Jadi sebenarnya masalah ini sudah clear bahwa atlet tuna rungu bukan dari NPC Indonesia yang memberangkatkan, tetapi dari federasi nasional tuna rungu yang bernama Patrin,” kata Rima.

Rima melanjutkan, setiap pengiriman atlet ke luar negeri harus melalui proses review untuk memastikan atlet yang diberangkatkan memenuhi dasar prestasi atau catatan waktu yang dipersyaratkan.

“Jadi tidak bisa ditetapkan hanya satu pihak saja, karena selama ini antara kami dengan Kemenpora selalu seperti itu. Siapa pun yang kami berangkatkan selalu berdasarkan prestasi atau catatan waktu atlet-atlet tersebut,” ujar dia.

Sementara itu, NPC Indonesia saat ini fokus mempersiapkan para atlet menuju Asian Para Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang yang dijadwalkan berlangsung pada 18-24 Oktober 2026.Kemenpora juga telah memastikan atlet, pelatih, dan ofisial Indonesia akan berangkat ke Jepang menggunakan pesawat yang disewa khusus untuk penerbangan langsung menuju Nagoya.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia