Bondowoso - Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) telah usai dengan menetapkan KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031.
Presiden Prabowo Subianto, saat pembukaan muktamar yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, itu beberapa kali menyebut Muhammadiyah bersanding dengan NU.
NU dan Muhammadiyah adalah organisasi kemasyarakatan Islam besar yang dalam beberapa hal berbeda, termasuk dalam praktik beragama.
Untuk konteks pemikiran, keduanya "dibelah" dalam dikotomi Islam modernis untuk Muhammadiyah dan Islam tradisional atau kaum sarungan untuk NU.
Dalam perkembangannya, perbedaan warna itu semakin mengabur, karena keduanya menuju pada kecenderungan yang modernis. Banyak tokoh NU yang kemudian tampil sebagai sosok pemikir modernis Islam.
Semua kiprah yang menunjukkan keterbelahan dan kemudian menuju pada kebersatuan menjadi bagian penting dari kiprah organisasi keagamaan tersebut pada perjalanan sejarah bangsa.
NU dan Muhammadiyah adalah dua sisi dari sayap Garuda untuk terbang mengantarkan rakyat menuju gerbang kesejahteraan.
NU-Muhammadiyah telah menorehkan kiprah panjang dengan mengambil posisi di kiri dan kanan atau di depan dan belakang untuk menuju tujuan yang sama, mengantarkan Indonesia menuju cita-cita ideal sebagai bangsa.
Dari sisi kiprah nyata, Muhammadiyah telah memberikan kontribusi besar dalam dunia pendidikan formal, demikian juga dengan NU yang basis kiprahnya lebih terlihat dalam bentuk pesantren. Kontribusi itu, tentu di luar kiprah lain di bidang ekonomi, politik dan sosial yang diperankan keduanya.
Sebagai bukti bahwa kiprah keduanya semakin padu, NU juga merambahkan perannya dalam pengembangan pendidikan formal, termasuk di ranah perguruan tinggi. Sebaliknya, Muhammadiyah juga mulai menerima model pendidikan NU dengan mendirikan pondok pesantren.
Dari contoh semakin mendekatnya kedua organisasi itu dalam dunia pendidikan, muncul ungkapan bernada satir namun menyejukkan, yakni NU semakin me-Muhammadiyah dan Muhammadiyah semakin meng-NU.
Semuanya diikhtiarkan untuk menjaga keberlanjutan bangsa dan negara bernama Indonesia yang semakin damai dan sejahtera.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.