Jakarta - “Pak Sule kemana?” Pertanyaan sederhana ini seringkali muncul dari anak-anak ketika Sulaiman Sulang (42) yang akrab dipanggil Sule beberapa waktu tidak terlihat di lingkungan Sekolah Rakyat Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Bagi Sulaiman, momen-momen kecil tersebut menjadi alasan yang membuatnya betah menjadi Wali Asuh di Sekolah Rakyat.
“Jadi kalau saya dua hari libur gitu ya atau ada dinas kemana, itu anak-anak mencari, Pak Sule kemana? Kok tidak kelihatan?,” kata Sulaiman, ditemui beberapa waktu lalu di Malang, Jawa Timur.
Di Sekolah Rakyat, ada kehangatan yang tidak Sulaiman temukan dengan cara yang sama selama 15 tahun mengabdi sebagai staf tata usaha di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri.
Sulaiman tidak pernah menyangka keputusannya untuk mengabdikan diri di Sekolah Rakyat membawanya pada pengalaman yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.
Satu bulan pertama saat bertugas sebagai wali asuh, Sulaiman banyak mengamati bagaimana mendampingi anak-anak dengan latar belakang yang beragam dari keluarga yang paling tidak mampu pada Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, mendampingi siswa Sekolah Rakyat tidak cukup hanya dengan aturan. Sulaiman mengungkapkan bekerja harus menggunakan hati dan keikhlasan.
“Sekolah Rakyat itu sungguh luar biasa. Karena di situ, kita mengajarin anak-anak yang memang tidak mampu. Anak-anak yang sudah tidak ada orang tuanya. Anak-anak yang tinggal sama mbah-nya saja. Anak-anak yang hidupnya sebatang kara,” Kata Sulaiman.
Anak petaniSulaiman hadir dari keluarga sederhana, orang tuanya bekerja sebagai petani. Pria yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur ini mengetahui betul bagaimana rasanya tumbuh dalam keterbatasan, bagaimana pendidikan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
“Saya lahir dari keluarga yang enggak mampu, dan bisa sukses, mereka juga harus lebih, mereka harus lebih sukses daripada saya,” katanya.
Lebih jauh, Sulaiman bercerita bahwa dia merantau ke Malang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Perjalanannya selama kuliah tidaklah mudah, dia tinggal menumpang di rumah bibinya dan rela bekerja untuk biaya makan sehari-hari.
“Tapi saya enggak full tinggal di bibi saya. Saya sore itu pasti ke rumahnya dosen. Di situ saya membantu cuci piring, siram tanaman setiap sore hari, menyapu halaman. Itu hanya untuk bisa buat makan. Itu saya lakukan hampir 4 tahun,” ungkapnya.
Selama berada di rumah salah satu dosen tersebut, Sulaiman belajar banyak hal, salah satunya dia banyak membaca buku dan menulis.
Ketika selesai kuliah, Sulaiman aktif menjadi penulis buku dan sempat mendapatkan penghargaan di tingkat Provinsi Jawa Timur.
“Ketika saya lulus dari kuliah, saya bekerja, saya sampai menulis 44 judul buku, dan terbitan semuanya ISBN. Baru-baru 2025, saya dapat penghargaan dari Ibu Gubernur Jawa Timur, sebagai penulis buku terbanyak di Jawa Timur,” kata Sulaiman.
Di samping menulis buku, Sulaiman juga aktif pada kegiatan konservasi lingkungan melalui inovasi pengolahan limbah sampah.
“Saya selalu ikut pelatihan pengolahan sampah, konservasi. Akhirnya, oleh beberapa NGO dari luar negeri itu mengundang saya ke Malaysia, ke beberapa negara, ke beberapa provinsi,” ujarnya.
Dia berharap pengalaman dalam menulis dan konservasi lingkungan bisa di bagi kepada para siswa Sekolah Rakyat.
“Saya selalu menyampaikan, ini lah anak petani. Bisa menulis buku sebanyak itu, bisa keliling Indonesia, bisa diundang di beberapa negara. Tanpa uang, tanpa ngeluarin duit. Nah itu motivasi-motivasi yang saya sampaikan ke mereka bahwa jangan mudah putus asa, karena kita orang nggak punya,” katanya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.