Bandarlampung - Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen Kristomei Sianturi mengatakan pendekatan berbasis lingkungan harus diterapkan dan dikembangkan guna mencegah konflik manusia dan gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur.
"Mitigasi konflik tidak berhenti pada pembangunan pembatas fisik. Pendekatan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat turut dikembangkan," katanya di Bandarlampung, Selasa.
Ia mengatakan hal itu dapat dilakukan dengan melatih masyarakat melakukan budidaya tanaman dan hewan yang tidak disukai gajah, seperti serai dan lebah.
"Serai dan lebah ini tidak disukai gajah sehingga turut menjaga supaya gajah tidak keluar. Hasilnya juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar, seperti madu dan serai," kata dia.
Pangdam Kristomei mengatakan pembangunan fasilitas mitigasi konflik manusia dan gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), telah mencapai sekitar 65 persen yang mencakup pemasangan pagar besi di sejumlah titik kawasan.
"Pembangunan ini ditargetkan selesai pada Oktober 2026 sebagai langkah strategis mencegah gajah keluar dari habitatnya dan berinteraksi dengan permukiman masyarakat. Tetapi pendekatan-pendekatan lingkungan juga harus terus dikembangkan," kata dia.
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan pemerintah daerah bersama TNI dan Polri terus memperkuat pengawasan kawasan, termasuk dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.
"Kesiapsiagaan personel tetap dilakukan melalui pemantauan lapangan dan sosialisasi kepada masyarakat," kata dia.
Selain itu, lanjut dia, langkah mitigasi melalui teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan juga dipersiapkan sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan konservasi dari ancaman karhutla.
"Teman-teman dari Kodam, teman-teman dari kepolisian masih standby di sini. Ada yang melakukan sosialisasi, ada juga yang monitoring," kata Mirzani.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.