Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Paparan asap berulang bisa tingkatkan risiko kanker paru

NadiKabar Biro
Paparan asap berulang bisa tingkatkan risiko kanker paru
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Paparan asap berulang bisa tingkatkan risiko kanker paru.

JAKARTA — Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi dr. Linda Masniari, SpP(K) mengatakan paparan asap dalam konsentrasi tinggi dan dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan paru hingga kanker paru.

“Kalau misalnya dia terpapar lama, bisa menyebabkan salah satunya kanker paru. Karena salah satu faktor risiko adalah kebakaran hutan atau lahan,” kata Linda ketika ditemui usai acara MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa.

Linda mengatakan paparan asap dapat berasal dari berbagai sumber, seperti kebakaran hutan dan lahan, pembakaran sampah, asap rokok, maupun emisi kendaraan bermotor.

Menurut dia, paparan asap dengan konsentrasi tinggi juga dapat menyebabkan gangguan paru akut.

“Kalau misalnya kebakaran asap itu bisa menyebabkan bronkitis, kemudian misalnya bisa menyebabkan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), kemudian bisa terakhir ini apa namanya, akut cedera paru akibat dari asap kalau misalnya konsentrasinya tinggi sekali,” ujarnya.

Linda mencontohkan kebiasaan membakar sampah di lingkungan permukiman juga perlu dihindari karena asap yang dihasilkan dapat menjadi salah satu faktor risiko kanker paru.

“Orang-orang di kompleks atau di perumahan itu kan suka bakar-bakar sampah, itu juga salah satu pencetus bisa terjadi kanker paru,” katanya.

Terkait paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan, Linda mengatakan penggunaan masker dapat membantu mengurangi paparan, meskipun tidak dapat memberikan perlindungan 100 persen.

“Kalau untuk menangkal 100 persen tidak bisa ya, tapi paling tidak ada sedikit pengurangan. Kalau misalnya mau, itu ya paling pakai yang waktu kita COVID dulu, pakai yang masker N95,” ujar Linda.

Ia menjelaskan partikel asap berukuran sangat kecil dapat masuk ke saluran pernapasan dan mencapai bagian paru yang lebih dalam.

“Karena asap kan ukurannya di bawah 0,5 mikron ya, jadi dia bisa masuk ke paru dan bisa mengendap di alveol,” katanya.

Linda mengatakan paparan tersebut dapat berkontribusi terhadap gangguan paru seperti bronkitis dan PPOK, terutama jika terjadi secara berulang atau dalam jangka panjang.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia