Palembang - Pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meski jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Indonesia menunjukkan tren penurunan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Palembang, Senin, mengatakan penurunan jumlah hotspot menjadi perkembangan positif, tetapi belum menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan karena potensi karhutla masih ada.
Penurunan jumlah hotspot terjadi di sejumlah daerah yang sebelumnya menjadi wilayah dengan titik panas tinggi.
Seperti di Kalimantan Tengah, sebelumnya mencatat hingga 1.116 hotspot dalam dua hari, kemudian turun menjadi sekitar 300 titik setelah dilakukan penanganan bersama.
Kemudian, Kalimantan Barat jumlah hotspot juga turun dari sekitar 800 menjadi 400 titik. Sementara Riau dilaporkan tidak memiliki hotspot, Jambi menyisakan satu titik, sedangkan Sumsel juga turun dari 39 menjadi 37 titik.
Namun, penurunan jumlah hotspot tidak berarti seluruh kebakaran telah berakhir, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut. Sebab, kebakaran di lahan gambut dapat meninggalkan bara di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.
"Hotspot ini bukan berarti tidak ada asap karena naturenya gambut, meski tidak ada api masih ada asapnya," ujarnya.
Ia mengatakan proses pendinginan dan pembasahan harus dilakukan secara intensif dan berulang untuk memastikan bara yang tersimpan di dalam gambut tidak kembali menjadi titik kebakaran.
"Apabila tidak dilakukan pendinginan atau pembasahan intensif yang berkali-kali berpotensi menjadi fire spot kembali," katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan data hotspot yang terdeteksi satelit perlu diverifikasi sebelum dikategorikan sebagai kebakaran.
Verifikasi dilakukan dengan menggunakan berbagai sarana, termasuk helikopter dan drone.
Di Sumatera Selatan, dari 37 hotspot berkekuatan tinggi yang terpantau, hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan 11 titik benar-benar merupakan fire spot.
Oleh sebab itu, pemerintah menargetkan seluruh fire spot tersebut dapat segera dikendalikan dengan mengerahkan personel dan peralatan pemadaman di lapangan.
Selain pemadaman, pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan memanfaatkan potensi hujan pada awal September.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat potensi bibit hujan pada 1–6 September 2026.
Potensi hujan tersebut diharapkan membantu memadamkan api yang masih aktif sekaligus membasahi lahan kering dan mengurangi kemungkinan bara kembali muncul.
Suharyanto menegaskan pemerintah masih akan melakukan penanganan karhutla secara intensif sepanjang September.
"Di bulan September ini kita masih akan berjibaku untuk memadamkan," kata dia.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.