Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Pendekatan komunikasi penting untuk mewaspadai hoaks terkait kesehatan

NadiKabar Biro
Pendekatan komunikasi penting untuk mewaspadai hoaks terkait kesehatan
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Pendekatan komunikasi penting untuk mewaspadai hoaks terkait kesehatan.

Jakarta - Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) Kementerian Kesehatan Rizky Ika Syafitri menyampaikan kiat mewaspadai berbagai informasi yang berpotensi menjadi informasi palsu atau hoax, terutama masalah kesehatan.

Dalam sebuah diskusi publik di Jakarta pada Sabtu, Rizky memaparkan bahwa golongan masyarakat yang rentan terpapar hoaks adalah mereka yang belum mampu membedakan informasi benar dan palsu.

“Ini urusannya digital literasi ya. Indonesia tuh penetrasi internetnya tinggi banget. Di sini pengguna sosmednya luar biasa. Semua orang pakai sosial media tapi belum tentu paham bagaimana seharusnya berinteraksi dengan sosial media,” ujar Rizky.

Kurangnya kemampuan literasi digital membuat golongan minim literasi digital ini kerap menerima informasi secara mentah dan dianggap sebagai fakta.

Rizky menilai bahwa ciri informasi hoaks dikemas kerap mencantumkan nama tokoh berpengaruh hingga narasi yang dibangun memancing emosi, seperti rasa marah, sedih, atau senang.

Lebih lanjut, Rizky mendorong perlu ada pembenahan dalam strategi komunikasi terutama mencegah hoaks terkait kesehatan seperti informasi mengenai vaksinasi.

Terkait dengan vaksinasi, Rizky melanjutkan bahwa selalu ada pihak yang memanfaatkan keraguan terhadap vaksin untuk kepentingan komersial, seperti menjual produk tertentu.

Penyebaran hoaks mengenai vaksin kerap dikemas dengan memanfaatkan emosi, karena itu, komunikasi vaksinasi dinilainya juga perlu menggunakan pendekatan emosional, seperti pesan yang menampilkan dampak serius penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.

Rizky menjelaskan bahwa vaksinasi memiliki tujuan yang sangat penting, yakni melindungi anak-anak dari penyakit. Menurutnya, cakupan imunisasi idealnya berada di kisaran 90-95 persen setiap tahun untuk mendapat herd immunity atau kekebalan kelompok.

“Kekebalan kelompok tuh supaya kalau ada anak-anak lain yang punya masalah itu dia tetap terlindungi, terlindungi oleh yang lain karena sebenarnya vaksinasi imunisasi itu kan intervensi public health ya,” ujar dia.

Rizky menilai bahwa seringkali pendekatan komunikasi mengenai imunisasi kerap hanya pada penyampaian fakta, seperti tujuan pemberian, dan jumlah dosis yang harus diterima. Namun, komunikasi mengenai vaksinasi itu perlu disampaikan kepada masyarakat mengenai alasan mereka membutuhkannya dan persoalan apa yang hendak dicegah atau ditanggulangi.

“Kalau saja strategi komunikasi itu memulai dengan buka masalahnya nanti vaksinasi itu jadi solusi yang memang diperlukan oleh kita semua sama-sama. Jadi bisa dibungkus dengan ini hak kalian loh yang harus kalian perjuangkan,” ujar Rizky.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia