Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Pendidikan holistik pesantren dan pembelajaran mendalam

NadiKabar Biro
Pendidikan holistik pesantren dan pembelajaran mendalam
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Pendidikan holistik pesantren dan pembelajaran mendalam.

Jakarta - Pendidikan sering dipahami terutama sebagai kegiatan yang berlangsung di ruang kelas, pada waktu yang telah dijadwalkan, dengan guru mengajar dan murid belajar. Ketika bel pulang berbunyi, pembelajaran pun dianggap selesai. Padahal, pembentukan manusia tidak mengenal bel masuk dan bel pulang.

Dalam perspektif ini, pesantren menawarkan sesuatu yang menarik untuk direnungkan dalam transformasi pendidikan Indonesia. Pesantren bukan hanya tempat santri mengikuti pembelajaran formal. Pesantren membangun sebuah lingkungan kehidupan yang memungkinkan pendidikan berlangsung sepanjang hari.

Santri belajar melalui sekolah atau madrasah, mengikuti pengajian dan berbagai kegiatan terstruktur, serta belajar melalui kehidupan sehari-hari di asrama dan masyarakat.

Pesantren dengan demikian dapat dipandang sebagai ekosistem pendidikan holistik yang mengintegrasikan pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi berlangsung melalui pembelajaran, pengasuhan, pembiasaan, keteladanan, interaksi sosial, dan pengalaman hidup.

Pendidikan pesantren memperoleh relevansi baru dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) tentang pembelajaran mendalam (deep learning). Pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, melalui pengembangan peserta didik secara holistik dan terpadu. Di dalamnya terdapat olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.

Pertemuan antara pendidikan holistik pesantren dan pembelajaran mendalam menjadi menarik karena keduanya sama-sama melihat pendidikan bukan sekadar sebagai proses memperoleh pengetahuan, tetapi sebagai proses membentuk manusia secara utuh.

Filosofi pembelajaran mendalam berangkat dari gagasan memuliakan. Dalam konteks pesantren, gagasan tersebut dapat dipahami melalui tiga unsur utama: memuliakan santri, memuliakan ustaz, dan memuliakan ilmu.

Santri bukan sekadar objek yang menerima materi pelajaran. Santri adalah manusia yang memiliki martabat, potensi, pengalaman, kebutuhan, dan masa depan. Pendidikan, karena itu, harus memberi ruang kepada santri untuk tumbuh sebagai pribadi yang memiliki kesadaran, kemampuan berpikir, kreativitas, kemandirian, serta tanggung jawab.

Ustaz pun bukan sekadar penyampai bahan ajar. Mereka adalah pendidik, pembimbing, teladan, sekaligus pembelajar sepanjang hayat. Hubungan ustaz dan santri idealnya bukan hanya hubungan antara pengajar dan yang diajar, melainkan hubungan pendidikan yang dibangun atas dasar penghormatan dan tanggung jawab.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia