Jakarta - Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Pertanian Presisi Kementerian Pertanian Prof Ir Desrial mengatakan penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat mempercepat pengembangan mekanisasi pertanian berbasis data.
Termasuk, menurut Desrial, dalam membantu pemerintah dan pelaku pertanian menentukan teknologi yang sesuai dengan kondisi spesifik di setiap wilayah.
Dalam acara National Multistakeholder Dialogue bertajuk “Scaling Up Crop Residue Management through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia” di Jakarta, Selasa, ia mengatakan data dan pengetahuan yang selama ini berkembang secara terpisah perlu dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai dasar untuk menghasilkan keputusan yang lebih cepat dan sesuai dengan kondisi masing-masing negara.
“Bagaimana database yang kita punya dan knowledge yang kita punya kita kumpulkan, kemudian kita gunakan tool yang saat ini banyak digunakan seperti artificial intelligence untuk membuat keputusan-keputusan dan kebijakan yang cepat dan sesuai dengan kondisi masing-masing,” ujar dia.
Menurut dia, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa mekanisasi pertanian tidak dapat diterapkan dengan satu pola yang sama di seluruh wilayah. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan karakteristik tanah dan lingkungan yang beragam membuat kebutuhan mekanisasi di setiap daerah berbeda.
Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa bantuan alat dan mesin pertanian atau alsintan yang dikirim pemerintah belum tentu dapat digunakan secara optimal di semua daerah.
Karena itu, pengembangan mekanisasi perlu menggunakan pendekatan bottom-up, yakni dimulai dengan memahami kondisi dan kebutuhan di lapangan sebelum menentukan jenis teknologi dan dukungan yang diberikan kepada petani.
Dalam konteks tersebut, AI dinilai dapat membantu mempercepat pengolahan data yang berasal dari berbagai wilayah dan negara. Data tersebut dapat mencakup pengalaman penerapan teknologi, kondisi lingkungan, karakteristik lahan, hingga hasil dari berbagai proyek percontohan.
“Dengan teknologi yang sudah banyak diterapkan, khususnya AI, kita bisa mempersingkat hal-hal yang tadinya mungkin orang melakukan iterasi beberapa kali untuk menghasilkan suatu kebijakan tertentu,” katanya.
Desrial mengatakan pengintegrasian data dan analisis yang tepat dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih konkret. Hasil analisis kemudian dapat diterapkan melalui proyek percontohan di masing-masing negara untuk memperkuat basis pengetahuan pengembangan mekanisasi di kawasan Asia Pasifik.
Ia mengatakan AI juga diharapkan dapat membantu membangun sistem smart mechanisation atau mekanisasi pintar. Sistem ini bukan berarti menerapkan satu model mekanisasi untuk seluruh negara, melainkan menggunakan data untuk mengklasifikasikan kondisi dan memberikan rekomendasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Ke depan, Desrial juga mendorong agar kerja sama Indonesia dengan negara yang menjadi anggota Consortium for Sustainable Agricultural Mechanisation (CSAM) menghasilkan mechanization outlook di kawasan Asia Pasifik. Negara-negara anggota perlu menyepakati klasifikasi data, indikator yang dapat digunakan bersama, standar dan sistem data, tata kelola, serta mekanisme pembaruannya.
Publikasi tersebut diharapkan menjadi wadah untuk memperbarui data, berbagi pengalaman dan memantau perkembangan mekanisasi pertanian secara berkelanjutan.
Melalui pemanfaatan AI dan penguatan basis data bersama, pengalaman panjang masing-masing negara dalam mengembangkan mekanisasi diharapkan tidak hanya menjadi pembelajaran internal, tetapi dapat saling mempercepat pengembangan teknologi pertanian yang lebih efisien, tepat guna dan berkelanjutan.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.