Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Penjelasan Kenapa Dentuman Keras di Bandung Dikaitkan Erupsi Krakatau

NadiKabar Biro
Penjelasan Kenapa Dentuman Keras di Bandung Dikaitkan Erupsi Krakatau
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Penjelasan Kenapa Dentuman Keras di Bandung Dikaitkan Erupsi Krakatau.

Jakarta, CNBC Indonesia - Dentuman keras yang terdengar hingga Bandung dan sejumlah wilayah Jawa Barat diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan energi akustik dari erupsi tertentu dapat merambat hingga ratusan kilometer.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM Rita Susilowati mengatakan dugaan tersebut muncul karena dentuman dan getaran dilaporkan terjadi bersamaan dengan erupsi Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam.

"Pelepasan energi akustiknya bisa sangat besar dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," kata Rita dalam konferensi pers daring, Sabtu (5/9/2026).

Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB. Pos pengamatan BGA Krakatau Pasauran juga mencatat suara gemuruh, sementara secara visual terlihat semburan berwarna merah menyala yang berlangsung selama beberapa jam.

Menurut Rita, peristiwa tersebut memiliki kemiripan dengan kejadian pada April 2020. Saat itu, suara dentuman terdengar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ketika Anak Krakatau juga mengalami erupsi.

"Kesamaan waktu ini merupakan indikasi korelasi, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan sumber dentuman," ujarnya.

PVMBG turut merujuk erupsi Gunung Kelud pada 2014. Erupsi dengan kolom mencapai sekitar 17 kilometer tersebut menghasilkan energi akustik besar dan suara dentuman terdengar hingga sejumlah wilayah Jawa Tengah.

"Perambatan suara erupsi hingga jarak jauh bukan fenomena yang tidak mungkin terjadi," kata Rita.

Rita menjelaskan perbedaan temperatur udara, arah, serta kecepatan angin dapat memengaruhi perambatan suara erupsi. Kondisi tersebut memungkinkan dentuman terdengar di wilayah yang jauh, sementara suara tidak selalu terdengar secara merata di seluruh daerah yang berada di antara sumber erupsi dan lokasi terdampak suara.

Meski dugaan sementara mengarah pada erupsi Anak Krakatau, PVMBG masih mencocokkan waktu aktivitas erupsi dengan laporan dentuman dan getaran masyarakat untuk memastikan keterkaitannya. PVMBG juga menyatakan belum menerima laporan adanya gempa tektonik signifikan di Jawa Barat yang dapat menjelaskan getaran tersebut.

Di tengah fenomena dentuman tersebut, status Gunung Anak Krakatau masih Level III (Siaga) dengan radius rekomendasi 3 kilometer. PVMBG menyatakan pertumbuhan tubuh Anak Krakatau pasca-runtuh pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami, sementara masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti informasi resmi Badan Geologi serta BPBD.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia