Beijing - Perusahaan Indonesia menarik investor dari China untuk kerja sama panel surya fotovoltaik (PV) dengan investasi tahap awal senilai 60 juta dolar AS, kata Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun.
"Kerja sama investasi ini diharapkan ikut berkontribusi pada pencapaian target pemanfaatan energi baru dan terbarukan khususnya panel surya di Indonesia dan juga peningkatan volume ekspor Indonesia sehingga menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk ekspor," katanya kepada ANTARA yang menghubunginya di Beijing, Kamis.
Penandatanganan kerja sama itu dilakukan Direktur PT Solarex Global Energi (anak perusahaan PT ESCO Mineral Indonesia) Alexander Gevanno dengan CEO ABES Technology Group Co., Ltd., Victor Cheung, pada Senin (31/8).
Proses tersebut disaksikan Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun, Konsul Jenderal RI untuk Hong Kong dan Makau Andi Ardiansyah di Hong Kong.
Tahap pertama kerja sama adalah mendirikan fasilitas perakitan modul panel surya di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi panel surya Generasi II yang tersedia secara komersial.
Berdasarkan perjanjian tersebut, mitra dari China, ABES akan berkontribusi dalam penyediaan teknologi panel surya generasi II, keahlian teknis, peralatan dan mesin yang dibutuhkan serta pendanaan.
Sementara, kontribusi perusahaan Indonesia berkaitan dengan perizinan berdasarkan peraturan di Indonesia, distribusi, pengembangan komersial, dan pengembangan pasar lokal.
Pengembangan teknologi ini dilakukan bekerja sama dengan perusahaan HKTECH SOLAR yangberspesialisasi dalam pengembangan teknologi panel surya generasi berikutnya.
PT ESCO sendiri bergerak dalam pengembangan dan komersialisasi produk silika dengan kemurnian tinggi yang berasal dari operasi penambangannya di Kalimantan Barat, dengan klien dari industri fotovoltaik, semikonduktor, kaca dan manufaktur canggih.
Sementara ABES Technology Group Co., Ltd. didirikan di Hong Kong dan merupakan perusahaan bidang manufaktur dan desain catu daya. Produk-produknya digunakan di berbagai sektor, seperti industri, medis, telekomunikasi, dan lainnya.
Perjanjian tersebut selanjutnya juga mempertimbangkan agar ESCO memasok material berkualitas PV yang diproses dari operasi penambangan Kalimantan Barat untukkerja sama Tahap 2 bersamaan dengan teknologi, lahan, kapasitas listrik, dan peralatan terkait yang dibutuhkan untuk produksi material berkualitas PV.
Kerja sama tersebut dinilai KJRI Hong Kong sejalan dengan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional 100 GWp yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026.
Proyek itu dimulai dengan 14 proyek dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.
Program tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 73 miliar dolar AS yang mencakup proyek di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
Fase pertama mencakup model pengembangan PLTS yang dipasang di tanah, mengambang, dan model lainnya, yang menunjukkan penerapan luas teknologi surya dalam sistem kelistrikan masa depan Indonesia.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.