Guiyang, China - Bagi banyak petani kecil di Provinsi Punjab, Pakistan, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di negara itu, bertani selama ini terasa seperti mempertaruhkan nasib pada ketidakpastian cuaca. Namun, nasib para petani setempat mungkin segera berubah.
Menteri Pertanian Punjab Syed Muhammad Ashiq Hussain Shah menghadiri ajang China International Big Data Industry Expo 2026 yang berlangsung hingga Minggu (30/8) di Guiyang, ibu kota Provinsi Guizhou, China barat daya. Dia mengatakan delegasinya datang dengan misi yang jelas, yakni mencari mitra dari China yang dapat membantu menghadirkan perangkat pertanian berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi jutaan petani kecil di Punjab.
Menurut pejabat Pakistan tersebut, banyak petani kecil di Provinsi Punjab tidak memiliki akses terhadap informasi yang andal dan tepat waktu. Di sisi lain, perubahan iklim membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi. Hujan deras yang datang tiba-tiba, kekeringan berkepanjangan, serta gelombang panas ekstrem menambah risiko baru bagi produksi pertanian.
Otoritas pertanian Punjab kini mengembangkan jaringan pemantauan digital berbasis AI yang dirancang untuk menyampaikan prakiraan cuaca, pemantauan tanaman, serta data waktu nyata mengenai kondisi tanah, air, dan pengendalian hama langsung kepada para petani.
"Kami ingin menggunakan AI untuk memantau cuaca, tanah, dan air, sekaligus melacak kondisi tanaman secara digital," kata Shah.
"Kami juga ingin menggunakan AI untuk pengendalian hama, sehingga petani cukup mengirimkan foto tanaman untuk mendapatkan bantuan dalam mengidentifikasi masalahnya," ujar dia menambahkan.
Menurut Shah apabila petani dapat menerima informasi-informasi tersebut lewat platform digital, mereka bisa mengambil keputusan yang lebih baik dan mengurangi kerugian.
"Karena itulah kami memandang AI sebagai alat penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung para petani di Punjab," ujarnya.
"Itulah alasan kami berada di sini, untuk mencari mitra dan belajar dari pengalaman China," kata dia menambahkan.
Kerja sama pertanian antara China dan Pakistan, termasuk dengan Punjab, sejatinya telah memiliki landasan yang kuat. Shah mengatakan Punjab telah menandatangani sedikitnya enam nota kesepahaman setelah kunjungan-kunjungan sebelumnya ke China dan secara aktif menindaklanjuti kesepakatan tersebut.
Perusahaan-perusahaan China juga memainkan peran penting dalam program mekanisasi pertanian berteknologi tinggi di Punjab. Shah memperkirakan sekitar 90 persen mesin yang diperoleh melalui program tersebut, termasuk mesin pemanen dan traktor, berasal dari China. Kini, kemitraan itu berkembang dari sekadar penyediaan perangkat keras menuju penerapan teknologi cerdas dan kecerdasan buatan.
Ali Mustafa Dar, penasihat kepala menteri Punjab untuk urusan kecerdasan buatan dan berbagai inisiatif khusus, mengatakan China tidak memandang AI sebagai sesuatu yang terpisah dari pembangunan ekonomi. Sebaliknya, AI diintegrasikan ke berbagai sektor, mulai dari manufaktur, logistik, perkotaan, pertanian, transportasi hingga layanan publik.
"China berpikir untuk jangka panjang. China membangun infrastrukturnya, melakukan eksperimen dan belajar. Ketika sesuatu terbukti berhasil, China memiliki kapasitas untuk mengembangkannya dalam skala yang luar biasa," ujarnya.
Sebagai zona percontohan nasional komprehensif pertama China untuk mahadata, Guizhou menawarkan pengalaman yang persis ingin dipelajari Punjab. Menurut Dar, Guizhou sangat menarik karena menunjukkan bahwa AI berawal dari fondasi data yang kuat.
Guizhou merupakan pusat penting untuk proyek nasional China "Data Timur, Komputasi Barat" (East Data, West Computing). Strategi nasional ini bekerja layaknya jaringan listrik, dengan mengalihkan kebutuhan pemrosesan data yang besar dari wilayah pesisir timur China yang berkembang pesat secara ekonomi ke wilayah barat yang kaya sumber daya. Hal penting lainnya, proyek tersebut memanfaatkan melimpahnya energi hijau di wilayah barat, seperti tenaga angin dan hidro, sehingga menjadi tonggak penting dalam pengembangan teknologi hijau dan pengurangan emisi karbon.
Hingga akhir Juli 2026, Guizhou memiliki 50 pusat data utama dengan total kapasitas komputasi mencapai 176,57 EFLOPS. Hampir 98,4 persen kapasitas tersebut secara khusus digunakan untuk komputasi terkait AI.
Dar mengatakan dirinya ingin memahami bagaimana Guizhou membangun ekosistem datanya, mulai dari infrastruktur, pusat data, dan standar, hingga tata kelola, industri, serta berbagai aplikasi yang dibangun di atas ekosistem tersebut.
Namun, Dar menegaskan bahwa tujuan mereka bukan sekadar mengimpor teknologi. Menurutnya, tahap berikutnya dalam kerja sama harus menghasilkan manfaat konkret, seperti peningkatan layanan publik, penguatan perusahaan teknologi lokal, serta penciptaan lebih banyak lapangan kerja bagi kaum muda.
"Pada akhirnya, itulah yang seharusnya dicapai melalui kerja sama di bidang AI," katanya.
Dia berharap kerja sama semacam itu pada akhirnya dapat menghasilkan model yang bermanfaat bukan hanya bagi Pakistan dan China, tetapi juga bagi negara-negara berkembang lainnya yang menghadapi tantangan serupa.
Shah menambahkan, pameran tersebut menjadi kesempatan besar bagi delegasi Punjab untuk memperkenalkan provinsi mereka, bertemu dengan calon mitra dari China, serta menjajaki bidang-bidang baru kerja sama, khususnya dalam AI dan teknologi digital.
Mengusung tema "Token: A New Path to Value of Data Elements", China International Big Data Industry Expo 2026 diikuti oleh 372 perusahaan dari dalam dan luar negeri serta lebih dari 16.000 tamu yang telah terdaftar. Pameran tersebut menampilkan berbagai teknologi, produk, dan aplikasi terbaru di bidang ekonomi token, kapasitas komputasi, inovasi model besar, serta sirkulasi elemen data.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.