Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri perang Ukraina dalam pertemuan di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), Senin (31/8/2026). Seruan ini disampaikan ketika India menghadapi ancaman tarif tinggi dari Amerika Serikat (AS) akibat pembelian energi Rusia.
"India mendukung semua upaya perdamaian di wilayah ini [perang Ukraina], dan kami akan terus melakukannya," kata Modi, seperti dikutip CNBC International, Selasa (1/9/2026). Ia menegaskan kedua negara harus mendorong penghentian permusuhan.
"Kita harus beralih dari perang yang tiada akhir menuju berakhirnya perang, menuju penghentian permusuhan," ujar Modi. Ia kemudian menambahkan, "Setiap hari perang berlanjut, kemanusiaan mundur satu langkah."
Seruan Modi muncul ketika Rusia kembali meningkatkan tekanan militernya terhadap Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia pada Senin menyatakan rencana melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap infrastruktur energi Ukraina, hanya beberapa hari setelah serangan besar terhadap gudang amunisi yang menewaskan 38 orang.
Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia pada musim dingin diperkirakan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Kyiv. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa Ukraina akan kembali menghadapi tekanan besar terhadap sistem energi ketika musim dingin tiba.
Di sisi lain, India juga menghadapi tekanan dari Washington terkait hubungannya dengan Moskow. DPR Amerika Serikat diperkirakan mengesahkan RUU yang diusulkan Senator Lindsey Graham, yang dapat mengenakan tarif hingga 100% terhadap negara yang masuk lima besar pembeli minyak atau gas Rusia, termasuk India dan China.
Rusia merupakan pemasok minyak mentah terbesar bagi India. Pada Juni dan Juli, minyak Rusia menyumbang lebih dari 50% impor minyak India, sementara porsinya mencapai hampir 43% hingga 24 Agustus; pada April-Juli, ekspor Rusia ke India melonjak hampir 60% secara tahunan menjadi lebih dari US$34 miliar atau sekitar Rp601,8 triliun.
Dalam pertemuan tersebut, Putin menyambut pertumbuhan perdagangan bilateral India-Rusia, meski mengakui "tahun lalu sempat terjadi sedikit penurunan." Washington sebelumnya juga pernah mengenakan tarif tambahan terhadap India terkait pembelian energi Rusia dan kini mendorong peningkatan pasokan minyak mentah Venezuela ke India sebagai alternatif untuk menggantikan minyak Rusia.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.