Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

"Print on Demand" pertahanan industri fesyen Jabar dari tekanan global

NadiKabar Biro
"Print on Demand" pertahanan industri fesyen Jabar dari tekanan global
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait "Print on Demand" pertahanan industri fesyen Jabar dari tekanan global.

Bandung - Tren busana cepat berbasis cetak sesuai permintaan (print on demand) menjadi penjaga pertumbuhan industri pakaian dan tekstil Jawa Barat masih berada di zona positif, di tengah guncangan geopolitik serta pelemahan nilai tukar mata uang.

Fenomena maraknya acara olahraga seperti kegiatan lari hingga ajang kumpul komunitas yang membutuhkan jersei eksklusif dinilai menciptakan pasar baru berdaya beli tinggi yang mengimbangi perlambatan manufaktur tekstil konvensional.

Direktur Moremedia Indonesia Bryan W Arsaha di Bandung, Rabu, mengungkapkan meski kondisi ekonomi global sedang penuh tantangan dan menyebabkan perlambatan, permintaan terhadap jasa cetak digital pada pakaian skala kecil hingga menengah justru mencatatkan pertumbuhan sekitar tiga hingga empat persen.

"Kalau yang di skala menengah dan kecil, permintaannya adalah berbasis print on demand atau custom printing. Itu yang sekarang sedang naik pesat. Setiap ada acara olahraga lari, kostum jerseinya baru. Komunitas otomotif juga punya kostumnya masing-masing. Permintaannya sangat tinggi," kata Bryan di sela pameran Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 di Bandung.

Menurut Bryan, tren fleksibel ini turut ditopang oleh evolusi teknologi cetak langsung ke tekstil (direct to garment) yang makin ramah lingkungan dengan penggunaan tinta eco-solvent serta pengolahan limbah kain sisa (upcycle).

Bryan mengungkapkan saat ini ada isu untuk efisiensi biaya di tengah tekanan persaingan harga yang dihadapi dari negara-negara tetangga.

Menjawab kekhawatiran atas isu efisiensi biaya produksi dan persaingan harga dengan produk dari luar negeri seperti Vietnam atau Bangladesh, kata dia, pameran IAPE 2026 yang memboyong 20 perusahaan dengan 50 merek teknologi mesin pakaian ini, sengaja hadir memotong rantai perantara bagi para pelaku usaha lokal.

Langkah memusatkan pameran skala nasional di Kota Bandung yang berdurasi tiga hari pada 2-5 September 2026 di Bandung Convention Centre ini, dilakukan guna memangkas biaya operasional para pengusaha distro, merek lokal, hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) daerah agar bisa langsung mengakses mesin dan bahan baku tanpa harus ke Jakarta.

Founder IAPE, Aulia Sunhandhyka menambahkan, momentum inovasi ini tidak hanya ditujukan bagi sektor bisnis, tetapi juga melibatkan institusi pendidikan vokasi di Jawa Barat seperti SMK Tata Busana, ISBI, hingga Islamic Fashion Institute (IFI) Bandung.

"Keterlibatan kalangan akademisi penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Dengan demikian, perkembangan bisnis apparel dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia," ujar Aulia.

Sementara itu, Ketua Komunitas Praktisi Grafika Indonesia (Kopi Grafika) Usman Batubara menilai bahwa lini cetak merupakan tulang punggung tak terlihat yang menopang nilai jual produk kreatif, mulai dari produk pakaian hingga kemasan ekspor.

Guna memperluas daya serap pasar lokal, Usman mendorong pemerintah untuk mulai menginisiasi pembentukan unit percetakan dan dekorasi pakaian di tingkat desa atau kecamatan.

"Lini cetak itu kebutuhan seumur hidup. Sekarang semua produk dikemas untuk meningkatkan nilai jual, dan di belakangnya selalu ada percetakan. Jika setiap kecamatan memiliki unit percetakan mandiri untuk memenuhi kebutuhan seragam atau sekolah di wilayahnya, ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat desa di Jawa Barat," tutur Usman.

Diinformasikan, pada IAPE 2026 di Bandung ini juga akan berlangsung ragam kegiatan pendukung seperti live demo, 10 sesi talkshow dengan tajuk Apparel Talk dengan menghadirkan 15 narasumber, business matching.

Selain menjadi acuan bagi para pengusaha, pameran ini juga diharap menjadi daya tarik bagi ekosistem bisnis pendukung seperti pengusaha distro, fashion designer, apparel online shop, hingga civitas akademika dan instansi kepemerintahan terkait.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia