Jakarta - Chief Executive of Net Zero Waste Management Consortium Ahmad Safrudin mengatakan bahwa program pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) harus dipersiapkan secara matang agar tidak mangkrak di kemudian hari.
"Dengan inisiasi, perencanaan, persiapan teknis dan financing yang matang maka tidak akan berpotensi menciptakan kemangkrakan PSEL di kemudian hari," kata Safrudin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Safrudin mengatakan bahwa proyek Waste to Energy (WtE) sampah diubah menjadi energi harus dipersiapkan secara cepat mengingat itu merupakan Proyek Strategis Nasional sehingga proyek itu harus diposisikan sebagai high profile project lengkap dengan pattern technology (prototype), pelibatan stakeholder terkait dan formulasi business plan yang efektif dan efisien.
Ia menilai bahwa para kepala daerah, pemerintah kota/kabupaten dan provinsi pusing tujuh keliling menghadapi krisis sampah seiring ditutupnya 343 unit TPA di seluruh Indonesia.
Sekalipun sudah ada solusi dari DENERA (subsidiary of DANANTARA) kata dia, sesuai mandat Perpres No 109/2025, namun para kepala daerah merasa belum "secure" bahwa hal itu akan menyelesaikan permasalahan krisis sampah.
Mereka masih memerlukan dukungan yang lebih konkret yang bisa komplemen dan paralel sekaligus sebagai Plan B dengan apa yang dipersiapkan oleh DANANTARA.
Menurut Safrudin, penyerapan sampah oleh PSEL apabila seluruh proyek tersebut efektif berjalan hanya sekitar 25.000 – 38.000 ton per hari, sementara timbulan sampah nasional mencapai 140.000 ton per hari.
"Set up tata kelola PSEL yang dilakukan saat ini lamban, ala kadar, tidak holistic dan berpotensi hanya sekadar memindahkan dari problem sampah menjadi problem pencemaran udara dan GRK (Gas Rumah Kaca)," ujarnya.
Menurut dia, persiapan dilakukan secara ala kadar dalam sebuah model bisnis yang tidak menyentuh jiwa dalam pengelolaan sampah.
Pengelolaan juga tidak holistic dengan melibatkan stakeholders kunci yang akan menjadi bagian dari rantai pengelolaan sampah untuk energi listrik. Terutama stakeholders yang akan menjadi rantai pasok penjamin keajegan pengiriman sampah.
"Dengan inisiasi, perencanaan, persiapan teknis dan financing seperti itu berpotensi menciptakan kemangkrakan PSEL di kemudian hari," kata Ahmad Safrudin.
Ia menambahkan perlu ada solusi konkrit dan taktis persampahan perkotaan dengan layanan cepat, pengumpulan efektif, pemilahan di sumber, pengolahan efektif termasuk PSEL dan WtE, di mana TPA hanya menampung residu.
Ini menjadi jembatan menuju sistem persampahan yang lebih berkelanjutan, sekaligus mengurangi beban lingkungan dan dampak kesehatan masyarakat.
"LCCN atau Lifecycle Carbon Neutral adalah metodologi jitu pengolahan sampah menjadi energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan emisi yang terkendali," ucapnya menambahkan.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.