Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp17.715 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.722 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi dolar AS yang terkoreksi.
"Rupiah diperkirakan dibuka datar dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang terkoreksi," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Koreksi ini disebabkan oleh kekhawatiran rencana buyback obligasi jangka panjang oleh pemerintah AS yang tak lama lagi akan dimulai.
Sebelumnya, Departemen Keuangan AS telah mengumumkan peningkatan ukuran buyback obligasi jangka panjang menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026, dari sebelumnya sebesar 2 miliar dolar AS.
Melihat sentimen domestik, investor cenderung wait and see menantikan data inflasi dan perdagangan Indonesia siang ini.
"Data perdagangan diperkirakan akan kembali menunjukkan defisit sekitar 300 juta dolar AS oleh lonjakan impor (dari harga minyak mentah yang tinggi) yang diperkirakan naik 24 persen, sedangkan inflasi yoy (year on year) diperkirakan naik dari 2,88 persen ke 3,13 persen," ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.650-Rp17.800 per dolar AS.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.