Banjarnegara - Suasana hening yang menyelimuti kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu di akhir Agustus, menciptakan kesan sakral kepada orang-orang yang berkumpul di sana.
Kesakralan itu makin berasa ketika alunan tembang Dandanggula perlahan mengisi udara, mengiringi prosesi ruwatan 13 anak berambut gimbal atau yang dalam tradisi masyarakat Dieng disebut anak bajang.
Di tengah suasana khidmat itu, terdengar suara Chaerudin yang memandu setiap tahapan ritual. Selain menjadi panitia Ruwatan Anak Berambut Gimbal dalam Dieng Culture Festival (DCF) 2026, ia dipercaya sebagai pembawa acara yang mengantarkan prosesi dari awal hingga akhir.
Anak-anak berambut gimbal yang akan menjalani ruwatan itu sebelumnya dikirab dari halaman rumah sesepuh adat Dieng menuju kompleks Candi Arjuna.
Sesampainya di pelataran candi, mereka menjalani jamasan (penyucian) yang dipimpin Bupati Banjarnegara Amalia Desiana sebelum memasuki prosesi utama berupa pemotongan rambut gimbal yang dipimpin sesepuh adat Dieng Mbah Sumanto.
Sejumlah tundangan turut memotong rambut gimbal secara bergantian. Namun, pemotongan tersebut bukan sekadar memangkas rambut. Di balik setiap helai rambut tersimpan permintaan yang harus dipenuhi sebagai bagian dari tradisi ruwatan.
Menurut koordinator DCF XVI Tahun 2026 Alif Faozi, terdapat 40 anak bajang yang didaftarkan orang tuanya untuk mengikuti ruwatan. Pendaftaran dilakukan atas keinginan anak-anak itu sendiri. Setelah dikurasi, akhirnya terpilih 13 anak yang mengikuti prosesi pada hari itu.
Kurasi tersebut berkaitan dengan kemampuan panitia memenuhi syarat atau permintaan yang diajukan anak bajang.
Ke-13 anak itu datang dengan keinginan yang beragam. Kakak beradik Andien Checilia Shaquilla (9) dan Andien Cheeryl Shaqueenna (7), anak pasangan Aminudin dan Anna dari Desa Mlandi Sumberdalem, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, masing-masing meminta dua kambing kecil jantan dan betina.
Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana dari Gataksari, Desa Serang, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, meminta enam daster seperti milik ibunya.
Malayeka Rafana Arabella dari Desa Bandingan, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara, dan Winda Aulia dari Dusun Buntu, Desa Bakal, Kecamatan Batur, Banjarnegara, sama-sama meminta sepeda listrik warna pink.
Mafaza Nuha Raisa dari Desa Pandansari, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, meminta sepeda warna ungu dan jalan-jalan di Dieng.
Hafizah Zia Almahira dari Desa Mekarsari, Kecamatan Garung, Wonosobo, meminta laptop dan sepasang ayam kalkun. Sementara Aurellia Arisha Ramadhani dari Desa Metawana, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, meminta perosotan dan ayunan warna pink.
Umi Fatimatuz Zahro dari Desa Deles, Kecamatan Bawang, Batang, meminta sepeda listrik warna pink dan dua ekor ayam hidup, jantan dan betina.
Alvi Zahidatul Vardah dari Desa Gembol, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara, meminta selendang kecil dan besar dengan warna bebas kecuali hijau, serta telepon seluler Redmi Note 14 8GB.
Herlistia Zoya Elmeera dari Desa Semunggang, Sedayu, Kecamatan Sapuran, Wonosobo, meminta dua ekor ikan hias, dua potong atau ekor daging bebek, dan sepeda warna pink.
Lilla Chandra Kusuma dari Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, meminta motor trail dan ingin prosesi pencukuran dilakukan oleh kakaknya.
Sementara Laira Anindya Maryam dari Desa Krakal Tamanan Karangluhur, Kecamatan Kertek, Wonosobo, hanya meminta satu hal: rambut gimbalnya dicukur di Dieng.
Laira, yang berusia 11 tahun dan duduk di kelas VI, berambut gimbal sejak berusia sekitar tiga tahun. Rambut gimbalnya pernah dipotong, tetapi kembali tumbuh.
Ia mengaku sempat mendapat ejekan dari teman-temannya karena rambut tersebut, terutama ketika tidak mengenakan hijab. Karena itu, dia berharap setelah ruwatan rambutnya dapat tumbuh normal.
"Semoga nanti bisa normal lagi rambutnya," kata Laira.
Ibunda Laira, Rizky mengatakan putrinya sejak kecil memang ingin rambut gimbalnya dicukur di Dieng. Namun, keinginan tersebut belum terwujud karena pandemi COVID-19.
Ketika Laira mulai bersekolah dan merasa malu karena diejek teman-temannya, keluarga akhirnya memilih memotong rambutnya di rumah. Namun, rambut gimbal kembali tumbuh.
Rizky mengatakan putrinya pernah meminta jam tangan yang dapat digunakan untuk berenang dan telah dipenuhi. Akan tetapi, keinginan mencukur rambut di Dieng tetap bertahan.
"Sudah dikasih. Tapi tetap mau minta cukur di sini, di Dieng," ujar Rizky.
Kisah serupa datang dari kakak beradik Checilia dan Cheeryl. Ibunda keduanya, Anna mengatakan Checilia telah meminta dicukur di Dieng sejak berusia sekitar dua tahun, bahkan sebelum mengetahui adanya DCF.
"Kakaknya cukur, adiknya minta cukur juga," kata Anna.
Kisah Laira serta dua bersaudara tersebut memperlihatkan bahwa ruwatan bukan sekadar atraksi festival. Tradisi itu hidup dalam keluarga, menjadi bagian dari keinginan anak dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.