Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Saat konsumen tak lagi terpaku pada satu kanal belanja

NadiKabar Biro
Saat konsumen tak lagi terpaku pada satu kanal belanja
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Saat konsumen tak lagi terpaku pada satu kanal belanja.

Jakarta - Konsumen kini semakin leluasa menentukan cara berbelanja. Sebelum membeli sebuah produk, mereka dapat menemukan informasi melalui media sosial, membandingkan harga di platform perdagangan elektronik atau e-commerce, melihat barang secara langsung di toko fisik, hingga kembali ke kanal digital untuk menyelesaikan transaksi.

Survei GMO Research & AI terhadap 881 pengguna internet berusia 16-60 tahun di Indonesia pada April 2025 menunjukkan 30,5 persen responden terbiasa membandingkan harga dan membeli pilihan termurah.

Sebanyak 25,7 persen responden lainnya menggunakan satu platform utama, tetapi sesekali berpindah ke platform lain.

Kecenderungan membandingkan harga juga terlihat dalam survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) terhadap 932 masyarakat kelas menengah pada Oktober 2025.

Sebanyak 94,5 persen responden mengaku pernah membandingkan harga produk di toko fisik dengan produk serupa di e-commerce. Perbandingan tersebut antara lain dilakukan pada produk fesyen, kosmetik dan perawatan kulit.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa perjalanan belanja masyarakat tidak selalu berjalan dalam satu kanal.

Pilihan dapat berubah sesuai harga, kebutuhan untuk melihat atau mencoba produk, kecepatan memperoleh barang, hingga kenyamanan dalam bertransaksi.

Belanja dimulai dari banyak kanal

Pola tersebut tercermin dari pengalaman Hanny, seorang pekerja kantoran di Jakarta.

Ia biasanya menemukan rekomendasi produk melalui media sosial TikTok, kemudian mengecek harga dan ulasan di platform belanja Shopee sebelum melihat produk secara langsung di toko fisik dan kembali membelinya secara daring atau online di Shopee.

Setelah membandingkan harga, Hanny memilih tempat pembelian berdasarkan penawaran yang dinilai paling sesuai.

“Kalau misal harganya lebih murah di offline, aku beli di offline. Tapi kalau misalnya ternyata lebih murah di Shopee, ya aku checkout-nya di Shopee, begitu,” kata Hanny ketika dihubungi oleh ANTARA pada Kamis (3/9).

Ia lebih sering menggunakan Shopee untuk membeli produk seperti skincare dan kosmetik. Sementara itu, toko fisik menjadi pilihan ketika ia ingin melihat produk secara langsung.

Menurut Hanny, toko fisik memberikan kesempatan untuk melihat kondisi produk dan membandingkan manfaatnya. Namun, harga yang dinilai lebih tinggi dibandingkan kanal daring menjadi salah satu pertimbangan sebelum membeli.

E-commerce, bagi Hanny, memberikan pilihan produk yang lebih beragam serta promosi seperti diskon, kupon atau voucher dan gratis ongkos kirim.

Kekurangannya, pembeli harus menunggu proses pengiriman jika tidak tersedia pilihan layanan same-day atau instant dan tidak dapat memeriksa produk secara langsung sebelum transaksi.

Rio, seorang pekerja kantoran di Jakarta, juga menggunakan beberapa kanal dalam berbelanja. E-commerce menjadi kanal yang paling sering digunakannya, disusul toko fisik dan situs web merek.

Ia biasanya membeli melalui e-commerce untuk produk yang tidak membutuhkan pemeriksaan fisik secara langsung dan memiliki risiko relatif rendah.

Sebaliknya, untuk barang yang membutuhkan kepastian ukuran, kualitas, atau layanan purnajual, ia cenderung mendatangi toko fisik.

Saat hendak membeli mesin cuci, misalnya, Rio menemukan produk yang sama di kanal online. Namun, keberadaan toko fisik dengan layanan purnajual di dekat tempat tinggalnya membuat ia memilih membeli secara langsung.

“Makanya kita harus double check dua-duanya, bahkan tiga-tiganya kita double check kalau mau beli barang,” ujar Rio kepada ANTARA, Kamis (3/9).

Harga dan kebutuhan menentukan pilihan

Pengamat ekonomi sekaligus Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai kecenderungan masyarakat membandingkan berbagai kanal belanja tidak terlepas dari pertimbangan harga.

Menurutnya, masyarakat masih berorientasi pada harga sehingga akan mencari pilihan yang dinilai lebih murah ketika menemukan perbedaan harga untuk produk yang sama.

“Kalau harganya lebih tinggi, pasti konsumen akan mencari yang lebih murah,” kata Nailul saat dihubungi ANTARA, Kamis (2/9).

Ia melihat kondisi tersebut membuat e-commerce semakin banyak digunakan, terutama ketika masyarakat menemukan harga yang lebih rendah dibandingkan toko fisik.

Perilaku membandingkan harga juga dapat membuat masyarakat datang ke pusat perbelanjaan sekadar melihat atau mencoba produk sebelum membelinya melalui kanal online.

Nailul menyebut fenomena tersebut sebagai bagian dari perubahan perilaku belanja masyarakat. E-commerce kini juga digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti sabun, sampo dan minyak goreng, selain pakaian, gawai serta produk kecantikan.

Temuan tersebut sejalan dengan survei GMO Research & AI yang mencatat harga produk dan diskon menjadi alasan utama responden berpindah platform belanja online, yakni sebesar 45,8 persen.

Faktor berikutnya adalah kecepatan dan kemudahan pengiriman sebesar 16,3 persen serta pilihan dan keamanan pembayaran sebesar 15,6 persen.

Pertimbangan harga tersebut menjadi salah satu alasan konsumen berpindah dari satu kanal ke kanal lain. Namun, pilihan tersebut juga dipengaruhi fungsi yang ditawarkan masing-masing kanal.

Toko fisik tetap memiliki ruang dalam perjalanan belanja masyarakat karena memberikan pengalaman yang sulit diperoleh melalui layar. Pembeli dapat melihat warna dan bentuk produk, mencoba ukuran, memeriksa material, berinteraksi dengan staf, sekaligus membawa pulang barang pada saat yang sama.

Kanal digital menawarkan pengalaman berbeda. E-commerce memberikan keleluasaan mencari berbagai produk, membandingkan harga dan ulasan, memaksimalkan penggunaan voucher promo, memilih metode pembayaran yang lengkap serta pengiriman dengan cepat dan mudah, hingga berbelanja tanpa harus datang langsung ke toko.

Sementara itu, situs web milik merek dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi mengenai produk, koleksi terbaru, produk eksklusif, serta nilai yang dibawa sebuah merek.

Bagi pembeli yang sudah mengenal suatu merek, kanal tersebut juga dapat menjadi titik interaksi langsung antara merek dan pelanggan.

Dalam praktiknya, masyarakat dapat menggunakan beberapa kanal dalam satu perjalanan belanja. Produk dapat ditemukan melalui media sosial atau situs merek, kemudian diperiksa di toko fisik dan dibandingkan harganya di e-commerce sebelum pembelian dilakukan.

Pola tersebut membuat e-commerce berperan sebagai salah satu titik transaksi dalam perjalanan belanja konsumen, dengan fitur yang mendukung proses pencarian produk, perbandingan, pembayaran hingga pengiriman.

Salah satu contoh kanal tersebut adalah Shopee, yang menyediakan berbagai pilihan produk dan penjual, fitur pencarian dan ulasan, promosi, pilihan pembayaran serta layanan pengiriman.

Untuk memaksimalkan layanan yang diberikan bagi pengguna, Shopee juga menyediakan mekanisme pengembalian barang dan dana yang mudah serta garansi tepat waktu yang memberikan voucher kompensasi apabila pesanan tiba melewati jaminan waktu yang ditetapkan.

Sejumlah fitur tersebut memperlihatkan bagaimana kanal digital menggabungkan pencarian produk, perbandingan, transaksi, pembayaran, pengiriman hingga layanan setelah pembelian dalam satu platform.

Jika konsumen dapat berpindah kanal sesuai kebutuhan, pelaku usaha juga perlu menyesuaikan cara menjangkau pembeli.

Penjual ikut menyatukan kanal

Perubahan perilaku masyarakat turut mendorong penjual untuk menggunakan lebih dari satu kanal penjualan.

Nailul mengatakan strategi tersebut dapat dilakukan untuk memperluas potensi pasar, membandingkan biaya, meningkatkan efisiensi, sekaligus mengurangi risiko apabila salah satu kanal mengalami kendala.

Salah satu pelaku usaha yang menerapkan strategi tersebut adalah Artch.Bdg. Merek yang didirikan Fakhri bersama sejumlah rekannya pada 2016 itu telah bergabung dengan Shopee sejak awal menjalankan usahanya dan kini memiliki toko offline serta beberapa titik penjualan konsinyasi.

Menurut data Artch.Bdg, penjualan melalui Shopee kini berkontribusi hingga 80 persen terhadap total penjualan merek tersebut.

Selain memanfaatkan fitur Iklan Shopee, Gratis Ongkir XTRA, Shopee Live, Shopee Video, Affiliate Marketing Solution dan Diskon Toko, Artch.Bdg juga memanfaatkan Program Ekspor Shopee untuk memperluas pasar ke Asia Tenggara, Asia Timur dan Amerika Latin.

Fakhri mengatakan keputusan bergabung dengan Shopee sejak awal didorong kebutuhan untuk membangun kredibilitas penjualan di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan online.

“Begitu Shopee hadir sekitar 2015-2016, Artch langsung gabung biar jualannya lebih kredibel,” kata Fakhri.

Ia mengatakan Artch.Bdg sebelumnya sempat mencoba menggunakan situs web sendiri, tetapi hasilnya belum sesuai harapan karena pembeli masih membutuhkan pihak ketiga yang dianggap terpercaya.

“Kami sempat mencoba penjualan lewat website, tapi kurang berdampak karena pembeli butuh pihak ketiga yang terpercaya seperti Shopee. Jadi, kami fokus memaksimalkan fitur yang ada karena calon pembeli memang adanya di marketplace. Sebelum masuk Shopee, banyak penipuan yang mengatasnamakan Artch. Kehadiran Shopee jadi solusi,” ujarnya.

Pengalaman dari sisi penjual juga terlihat pada Umairah, pemilik Oleh-Oleh Jakarta Nengmae, yang memilih bergabung dengan Shopee karena dapat mengakses sejumlah kebutuhan operasional dalam satu ekosistem.

“Saya diawal langsung bergabung di Shopee karena modal dan barrier to entry-nya rendah. Di Shopee semuanya sudah end to end, mulai dari payment, logistik, dan fitur promosi. Kalau itu semua saya lakuin mandiri, pasti cost-nya jauh lebih besar,” kata Umairah.

Ia juga mengaku biaya berjualan di platform online lebih ekonomis, karena hanya membayar saat transaksi terjadi.

“Biaya administrasi misalnya, hanya saya bayar kalau ada transaksi. Kalau buka toko offline atau website sendiri, semua biaya sudah saya keluarkan di awal, padahal belum tentu ada traffic yang membeli,” tambahnya.

Pengalaman kedua pelaku usaha tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kanal penjualan dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.

Bagi Umairah, kehadiran Shopee membantu mengintegrasikan pembayaran, logistik, dan promosi, sedangkan Fakhri memanfaatkan platform tersebut untuk memperkuat kredibilitas penjualan sekaligus memperluas pasar.

Pada akhirnya, harmonisasi ekosistem saluran belanja oleh konsumen terlihat dari kemampuan masyarakat memanfaatkan fungsi berbeda dari setiap kanal dalam satu perjalanan pembelian.

Toko fisik memberikan pengalaman langsung, situs web dapat menjadi sumber informasi dan titik interaksi dengan merek, sementara e-commerce menawarkan kemudahan pencarian, perbandingan, melakukan transaksi dengan voucher yang menarik hingga layanan konsumen setelah pembelian.

Perjalanan belanja pun semakin jarang berbentuk satu garis lurus. Ia dapat dimulai dari layar ponsel, berlanjut ke toko fisik, kembali ke marketplace, atau berakhir di situs sebuah merek.

Bagi masyarakat, pilihan kanal dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi penjual, keberadaan di berbagai kanal membuka lebih banyak titik pertemuan dengan calon pembeli.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia