Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Samuel Sekuritas: Suku bunga dan rupiah jadi kunci pemulihan IHSG

NadiKabar Biro
Samuel Sekuritas: Suku bunga dan rupiah jadi kunci pemulihan IHSG
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Samuel Sekuritas: Suku bunga dan rupiah jadi kunci pemulihan IHSG.

Jakarta - PT Samuel Sekuritas Indonesia melihat bahwa ekspektasi terhadap suku bunga acuan dan nilai tukar rupiah akan menjadi kunci pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sepertiga akhir tahun 2026.

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim mengatakan investor saat ini cenderung mempertanyakan kapan IHSG dapat kembali mengalami penguatan setelah tertekan sepanjang tahun berjalan.

“Pertanyaan utama investor saat ini adalah kapan IHSG bisa kembali rebound. Jika melihat sejarah, IHSG beberapa kali menunjukkan pemulihan berbentuk V setelah mengalami penurunan tajam. Namun, pemulihan tersebut membutuhkan prasyarat yang jelas, terutama dari arah rupiah dan suku bunga,” ujar Shim dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, di Jakarta, Jumat.

Dalam materi bertajuk September Market Navigation: Victory is Just Around the Corner, Shim menjelaskan nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun memiliki korelasi negatif yang kuat terhadap IHSG.

Artinya, pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi cenderung memberikan tekanan terhadap pasar saham.

"Sebaliknya, stabilisasi rupiah dan penurunan imbal hasil berpotensi membuka ruang bagi pemulihan IHSG," ujar Shim.

Shim memperkirakan tekanan terhadap mata uang rupiah telah mencapai puncaknya pada semester I-2026.

“Jika pelemahan rupiah sudah melewati titik terburuknya, maka alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi semakin lemah. Ini penting bagi pasar, karena rupiah dan suku bunga merupakan dua prasyarat utama untuk membuka jalan pemulihan IHSG,” ujar Shim.

Dari sisi suku bunga, Shim mengatakan bahwa pelaku pasar mulai memperkirakan bahwa Bank Indonesia (BI) tidak akan melanjutkan kenaikan suku bunga hingga kuartal IV- 2026 dan 2027.

"Namun demikian, arah kebijakan tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah," ujar Shim.Ia menilai imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di level sekitar 7 persen, masih sebanding dengan negara-negara berperingkat BBB.

"Secara teoritis, imbal hasil tersebut berpotensi berada di kisaran 6 persen, dengan mempertimbangkan tingkat inflasi negara pembanding," ujar Shim.

Kemudian, ia mengatakan faktor lain yang dinilai mendukung pemulihan pasar adalah likuiditas domestik, dengan uang beredar (M2) Indonesia tercatat Rp10.371 triliun atau tumbuh 8 persen secara (year on year).“Kami melihat investor masih memiliki likuiditas yang cukup besar. Ketika sentimen mulai berbalik dan dana mulai bergerak kembali ke pasar saham, pergerakan harga dapat berlangsung cukup cepat,” ujar Shim.Dari mancanegara, ia menyebut arus dana asing mulai menunjukkan perbaikan, sejak Juni 2026 investor asing tercatat mulai kembali membeli obligasi dan saham Indonesia.

"Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dinilai dapat mendorong rotasi dana ke aset pasar berkembang, termasuk Indonesia," ujar Shim.

Sejak Juni 2026, Samuel Tumbuh Bersama melihat valuasi saham domestik mulai menarik, yaitu IHSG memiliki trailing price-to-earnings ratio (P/E) sekitar 14,2 kali, atau mendekati level terendah 10 tahun sebesar 12,5 kali dan berada di bawah rata-rata 10 tahun sekitar 20,6 kali.

Dengan valuasi yang lebih rendah, fundamental korporasi yang masih solid, serta potensi stabilisasi rupiah dan suku bunga, ia menilai peluang kenaikan pasar mulai lebih besar dibandingkan risiko penurunan.“Valuasi pasar saat ini sudah berada di level yang lebih menarik, sementara fundamental korporasi Indonesia masih solid. Dengan rupiah yang lebih stabil, ekspektasi suku bunga yang mereda, likuiditas domestik yang besar, dan asing mulai kembali masuk, kami melihat peluang pemulihan pasar semakin terbuka,” kata Shim.

Seiring dengan itu, Samuel Tumbuh Bersama merekomendasikan investor mulai mengurangi porsi kas dan menyeimbangkan kembali alokasi ke aset berisiko, dengan komposisi saham 40 persen, fixed income 40 persen, emas 5 persen, kripto 10 persen, dan kas 5 persen.

Adapun, untuk saham preferensi diarahkan pada non-MSCI blue chips, sedangkan pada instrumen pendapatan tetap, pilihan tetap difokuskan pada obligasi berjangka pendek.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia