Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab tetap relevan hadapi zaman

NadiKabar Biro
Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab tetap relevan hadapi zaman
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab tetap relevan hadapi zaman.

Jakarta - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Muhammad Sarmuji menyebut pemikiran Pahlawan Nasional sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), yang tertuang dalam buku Penyirep Gemuruh masih relevan untuk menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat saat ini.

Salah satu contohnya, kata Sarmuji adalah saat Mbah Wahab berhasil menyelesaikan konflik terkait perluasan Masjid Peneleh Surabaya dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai utama NU, yakni tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i'tidal.

"Karakter NU yang selama ini kita pahami sebagai tawassuth, tawazun, tasamuh, i'tidal. Yaitu moderat, toleran, lalu tawazun itu seimbang, dan i'tidal yaitu adil," kata Sarmuji dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Hal itu disampaikan Sarmuji saat menjadi pembicara dalam bedah buku Penyirep Gemuruh karya KH Abdul Wahab Chasbullah di Masjid Gedang PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang, Sabtu malam (29/8).

Sarmuji hadir dengan mengenakan busana khas nahdliyin berupa baju dan sarung batik serta peci hitam. Dalam acara tersebut, ia tampak beberapa kali memperhatikan buku tebal Penyirep Gemuruh yang menampilkan foto pendiri NU KH Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab pada sampulnya.

Kegiatan yang digelar Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk menyemarakkan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam paparannya, Sarmuji mengungkapkan bahwa kisah yang tertuang dalam Penyirep Gemuruh menunjukkan karakter NU dalam menyelesaikan persoalan, terutama melalui sikap moderat dan mengedepankan musyawarah.

Sarmuji menjelaskan, salah satu keteladanan Mbah Wahab terlihat dari kemampuannya mengakomodasi berbagai pendapat dalam mencari solusi. Tidak hanya mempertimbangkan pandangan ahli fikih, tetapi juga mendengarkan pendapat dari pihak lain yang memiliki keahlian tertentu.

Bagi Sarmuji, cara KH Wahab Hasbullah dalam menyelesaikan konflik menjadi contoh bagaimana sebuah persoalan dapat diselesaikan dengan pendekatan yang teduh, tidak mengedepankan pertentangan, serta tetap mencari titik temu.

Ia menilai pemikiran Mbah Wahab masih memiliki relevansi kuat dengan kondisi masyarakat saat ini yang menghadapi berbagai bentuk kegaduhan dan perbedaan pandangan.

Pemikiran Mbah Wahab, menurut Sarmuji, memberikan pelajaran bahwa konflik tidak selalu harus diselesaikan dengan memperbesar perbedaan, melainkan melalui dialog, keseimbangan, dan pencarian solusi bersama

Selain Sarmuji, bedah buku ini juga menghadirkan dua narasumber lain, yakni Ayung Notonegoro dari Komunitas Pegon Banyuwangi dan Fathul H Panatapraja, penerjemah sekaligus penulis kitab Penyirep Gemuruh.

Sementara itu, penemu naskah kuno Penyirep Gemuruh dari Komunitas Pegon Banyuwangi, Ayung Notonegoro, mengungkap perjalanan panjang ditemukannya kitab tersebut.

Ayung menjelaskan, kitab Penyirep Gemuruh ditemukan sekitar tahun 2016 atau 2018 saat dirinya melakukan riset sejarah NU di Banyuwangi atas tugas dari PCNU setempat.

Dalam proses penelitian tersebut, Ayung berkunjung ke Pesantren Lateng, Banyuwangi. Di sana, ia menemukan dua lemari milik Kiai Saleh yang berisi kitab-kitab tua. Namun, lemari tersebut telah tergembok selama belasan tahun dan tidak pernah dibuka.

Menurut Ayung, saat itu berkembang cerita di masyarakat bahwa siapa pun yang membuka lemari tersebut akan mengalami hal buruk. Kondisi tersebut membuat tidak banyak orang berani mengakses koleksi kitab yang tersimpan di dalamnya.

Ayung kemudian melakukan pendekatan kepada keluarga ahli waris untuk mendapatkan izin membuka lemari tersebut. Proses tersebut membutuhkan waktu dan membangun kepercayaan antara dirinya dengan keluarga pesantren.

"Nah, dari sana kemudian terjadilah trust, tumbuh kepercayaan itu. Akhirnya kami diberikan kepercayaan untuk membuka lemari yang sudah belasan tahun tergembok itu. Tidak apa-apa, kalau saya sakit demi ilmu pengetahuan," kata Ayung.

Setelah lemari dibuka, Ayung menemukan berbagai kitab tua yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satunya adalah kitab Penyirep Gemuruh karya KH Wahab Hasbullah yang kemudian menjadi bahan kajian dalam bedah buku tersebut.

"Salah satunya mungkin yang kita bedah pada malam hari ini, yaitu sebuah kitab yang berjudul Penyirep Gemuruh karya Kiai Wahab," ujarnya.

Ayung juga menjelaskan bahwa kitab tersebut sebenarnya tidak hanya tersimpan di Pesantren Lateng Banyuwangi. Menurutnya, naskah serupa pernah berada di kantor PCNU Surabaya di Jalan Bubutan, tetapi belum banyak mendapatkan perhatian.

Ia menyebut Komunitas Pegon menjadi salah satu pihak yang pertama kali mempublikasikan kitab tersebut sehingga keberadaan Penyirep Gemuruh mulai dikenal masyarakat luas.

Penerjemah kitab Penyirep Gemuruh, Fathul H Panatapraja, menjelaskan bahwa buku tersebut mengulas kiprah KH Abdul Wahab Hasbullah dalam meredam konflik terkait perluasan Masjid Paneleh Surabaya.

Masjid tersebut dalam kisah yang tertuang di kitab disebut memiliki keterkaitan dengan sejarah Sunan Ampel. Dalam menyelesaikan persoalan iru, KH Wahab Hasbullah menggunakan pendekatan keagamaan, khususnya melalui perspektif hukum fikih.

"Proses penyelesaian konflik yang diselesaikan Mbah Wahab tidak hanya lewat pendekatan dialog, tapi pencarian solusi dari sudut pandang hukum fikih," ujar Fathul.

Menurut Fathul, pendekatan yang dilakukan KH Wahab Hasbullah menunjukkan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman agama, dialog, serta kemampuan membaca kondisi sosial masyarakat.

Ia menilai cara Mbah Wahab dalam menghadapi konflik tersebut masih relevan untuk dipelajari, terutama dalam konteks penyelesaian berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat saat ini.

Awalnya, acara bedah buku tersebut direncanakan berlangsung di PP Al-Mubtadi-ien Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Namun, panitia kemudian memindahkan lokasi kegiatan ke Masjid Mbah Ustman atau Masjid Gedang, sebuah tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi lingkungan pesantren Bahrul Ulum..

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia