Kairo - Mesir dan Tiongkok sama-sama memiliki peradaban kuno, dan para seniman dari kedua negara harus memanfaatkan kekayaan warisan budaya mereka untuk meningkatkan rasa saling pengertian serta mempererat hubungan antarmasyarakat, demikian disampaikan oleh seorang seniman ternama asal Mesir.
"Seni merupakan jembatan penting yang menghubungkan peradaban Mesir dan Tiongkok," tutur Ahmed Nawar, profesor di Fakultas Seni Rupa Universitas Helwan, dalam sesi wawancara baru-baru ini dengan Xinhua.
Nawar telah tiga kali mengunjungi Tiongkok. Pada 2013, dia mengikuti tur seni ke Tiongkok dalam program "Silk Road: Artists' Rendezvous", sebuah pengalaman yang masih membekas dalam ingatannya.
"Dalam perjalanan itu, saya menghabiskan waktu sekitar tiga pekan untuk membuat sketsa dan mengumpulkan inspirasi artistik di Beijing, Shanghai, Xi'an, dan kota-kota lainnya," ujarnya.
Nawar sangat terkesan oleh kearifan artistik, kreativitas, dan keterampilan luar biasa yang dituangkan para perajin Tiongkok kuno ke dalam karya-karya arsitektur.
Bagi Nawar, karya-karya tersebut layaknya "harta karun."
"Pengalaman tersebut memberikan pengaruh yang sangat mendalam terhadap karya seni saya," kata Nawar.
Pengalaman Nawar di Tiongkok menjadi sumber inspirasi penting dalam penciptaan karya seninya. Dengan menjadikan lanskap, arsitektur kuno, pasar tradisional, dan masyarakat biasa di Tiongkok sebagai objek, Nawar menghasilkan lebih dari 30 sketsa yang kemudian dipamerkan di sejumlah galeri terkemuka di seluruh Mesir.
"Saya berinteraksi dengan masyarakat Tiongkok di tempat-tempat wisata, pasar, serta di jalan dan gang, sambil mengamati kehidupan sehari-hari mereka. Setiap tempat menghadirkan kesan keindahan dan inspirasi artistik yang unik bagi saya. Ketika berjalan melewati pasar tradisional di Xi'an, saya tidak bisa tidak teringat pada suasana yang familier di pasar Khan el-Khalili di kawasan kota tua Kairo," kata Nawar.
"Setiap kali melihatnya sekarang, saya teringat kembali tempat-tempat di mana saya membuat karya tersebut, orang-orang yang saya temui, dan emosi yang saya rasakan pada saat itu. Kenangan-kenangan tersebut masih begitu jelas," ujar seniman Mesir itu.
Nawar mengatakan dirinya pernah menggelar pameran tunggal di Pulau Zamalek, Kairo, yang menarik banyak pelajar, pencinta seni, dan kolektor lokal. Sebuah seminar tentang budaya dan seni Tiongkok juga digelar dalam pameran tersebut.
"Orang-orang tidak hanya tertarik untuk mengapresiasi karya seni itu sendiri, tetapi juga ingin memahami Tiongkok yang ada di balik karya-karya tersebut. Pertukaran seni dapat memicu ketertarikan, memperdalam pemahaman, dan mendekatkan berbagai peradaban," ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Nawar terus mengikuti perkembangan Tiongkok di berbagai bidang, termasuk sains dan teknologi, arsitektur dan teknik, serta memasukkan contoh-contoh terkait ke dalam pengajarannya di kelas.
"Jika saya tidak melihat sendiri pencapaian pembangunan Tiongkok, keindahan alamnya, serta kekayaan warisan sejarah dan budayanya, saya tidak akan dapat membawa pengalaman-pengalaman tersebut ke dalam pengajaran saya dan berbagi dengan para mahasiswa Mesir mengenai nilai seni tradisional Tiongkok dan praktik-praktik inovatif dalam seni kontemporer," tuturnya.
Menurut Nawar, pertukaran dan kerja sama yang tulus di antara para seniman merupakan kekuatan penting untuk semakin mendekatkan masyarakat Mesir dan Tiongkok serta semakin memperdalam pertukaran budaya antara kedua negara.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.