Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Syailendra: Geopolitik menopang emas, imbal hasil riil jadi tekanan

NadiKabar Biro
Syailendra: Geopolitik menopang emas, imbal hasil riil jadi tekanan
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Syailendra: Geopolitik menopang emas, imbal hasil riil jadi tekanan.

Jakarta - Perusahaan manajer investasi PT Syailendra Capital menilai risiko geopolitik berpotensi menopang emas, sementara tingginya imbal hasil riil menjadi salah satu faktor yang dapat menahan kenaikan harga logam mulia tersebut.

Head of Investment Specialist PT Syailendra Capital Syanne Gracetine Polii mengatakan pergerakan emas saat ini menghadapi sejumlah katalis positif sekaligus faktor yang dapat memberikan tekanan terhadap harga.

“Investor sekarang ini dihadapkan pada kondisi yang cukup atraktif untuk melirik lagi emas,” kata Syanne dalam Syailendra Media Talks bertajuk “Gold 360°: One Asset, Four Perspectives” di Jakarta, Senin.

Berdasarkan materi paparannya, harga emas tercatat meningkat sekitar 227 persen dibandingkan level awal 2016 hingga mencapai puncaknya pada 28 Januari 2026. Setelah itu, harga emas mengalami koreksi sekitar 26 persen pada periode Januari-Juni 2026.

Syanne menempatkan risiko geopolitik sebagai salah satu katalis positif bagi emas. Ia mencontohkan kembali meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Senin pagi yang turut memicu kenaikan harga minyak.

“Kemudian geopolitical risk, kalau teman-teman lihat tadi sekitar jam 5 pagi, jam 6 pagi sudah terjadi lagi penyerangan AS ke Iran sehingga harga oil-nya spike lagi,” ujar dia.

Selain geopolitik, ia menyebut pembelian bank sentral, dedolarisasi, kekhawatiran fiskal, arus masuk ETF emas global, serta kebutuhan diversifikasi portofolio sebagai faktor yang dapat menopang permintaan emas.

Di sisi lain, tekanan terhadap emas berasal antara lain dari tingginya imbal hasil riil dan penguatan dolar AS.

Sebagai aset yang tidak memberikan bunga maupun kupon, daya tarik relatif emas dinilai dapat berkurang ketika imbal hasil aset berbunga meningkat.

Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan 28-29 Juli 2026 mempertahankan kisaran target suku bunga acuan pada 3,50-3,75 persen. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya bank sentral AS mengendalikan inflasi yang masih berada di atas sasaran.

Ketua The Fed Kevin Warsh pada Jumat (28/8) menyebut inflasi berdasarkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) secara tahunan masih sebesar 3,7 persen, lebih tinggi dibandingkan target The Fed sebesar 2 persen.

“But challenge-nya juga enggak kalah banyak. Jadi kalau kita lihat di sini, higher real yields, jadi spike dari yield-nya obligasi juga masih terus terjadi khususnya di AS. Kemudian ini kalau misal kita lihat Dolar AS sempat spike juga pagi hari ini,” ucap Syanne.

Dampak penguatan dolar AS turut terlihat di pasar domestik. Rupiah pada pembukaan perdagangan Senin melemah 57 poin atau 0,32 persen menjadi Rp17.750 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.693 per dolar AS.

Pelemahan rupiah tersebut terjadi setelah pasar merespons pernyataan Warsh yang cenderung ketat terhadap inflasi.

Sementara dari sisi permintaan, materi Syailendra mencatat Polandia sebagai pembeli bersih emas terbesar dari kalangan bank sentral pada semester I 2026 dengan tambahan 82 ton, disusul Uzbekistan 41 ton, China 40 ton, dan Kazakhstan 27 ton.

Menurut Syanne, pembelian bank sentral dalam tiga tahun terakhir menjadi salah satu sumber permintaan emas yang semakin dominan, setelah sebelumnya permintaan perhiasan memiliki porsi lebih besar.

Di dalam negeri, harga emas Antam pada Senin pagi tercatat stabil Rp2.670.000 per gram dengan harga beli kembali (buyback) Rp2.523.000 per gram. Pada Sabtu (29/8), harga emas Antam turun Rp48.000 menjadi Rp2.670.000 per gram dari sebelumnya Rp2.718.000 per gram.

Selain mencermati pergerakan harga, Syanne menilai emas perlu dilihat berdasarkan fungsinya sebagai pelengkap portofolio karena pergerakannya dapat berbeda dengan saham maupun obligasi.

“Jadi emas fungsinya bukan jadi core portfolio, tapi diversifikasi kita,” tuturnya.

Dalam simulasi Syailendra, portofolio dengan komposisi 60 persen saham dan 40 persen obligasi mengalami penurunan sekitar 22 persen pada krisis keuangan global 2008. Setelah 10 persen porsi obligasi dialihkan ke emas, penurunan portofolio menjadi sekitar 18 persen.

Simulasi serupa menunjukkan penurunan portofolio pada periode pandemi COVID-19 berkurang dari sekitar 17 persen menjadi 14 persen setelah terdapat alokasi 10 persen emas. Pada gejolak suku bunga 2022, penurunannya berkurang dari 16 persen menjadi 13 persen.

Meski demikian, Syanne mengingatkan berbagai faktor pendukung tersebut tidak menjamin harga emas terus meningkat.

Selain imbal hasil riil dan dolar AS, aksi ambil untung, meningkatnya minat terhadap aset berisiko, valuasi tinggi, keterjangkauan perhiasan, serta respons pasokan tambang dapat menjadi tantangan bagi harga emas.

“Bukan berarti sekali kita beli emas sekarang besoknya langsung naik, bukan berarti juga sekali beli emas ke depannya enggak ada koreksi,” ungkap Syanne.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia