Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Teknologi Tesla dikritik pesaingnya Waymo

NadiKabar Biro
Teknologi Tesla dikritik pesaingnya Waymo
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Teknologi Tesla dikritik pesaingnya Waymo.

Jakarta - Waymo, perusahaan taksi swakemudi yang merupakan hasil proyek Google, secara tidak langsung mengkritik Tesla karena hanya menggunakan kamera untuk memasok data ke sistem mobil otonomnya.

Menurut Waymo, kamera saja tidak cukup untuk memastikan keselamatan. Wakil Presiden Perangkat Lunak Onboard Waymo, Srikanth Thirumalai, mengatakan dalam sebuah tulisan di blog bahwa perjalanan sejauh 320 juta kilometer yang ditempuh kendaraan otonom milik perusahaan tersebut membuktikan perlunya penggunaan sensor LiDAR dan radar, selain kamera.

“Kamera memang luar biasa, tetapi kamera saja tidak cukup. Selama bertahun-tahun, ada perdebatan mengenai apakah kamera saja dapat mewujudkan otonomi penuh. Kini, setelah menempuh lebih dari 200 juta mil di dunia nyata, datanya sudah jelas: pengoperasian kendaraan yang aman dan sepenuhnya otonom dalam skala besar membutuhkan lebih dari itu,” kata Thirumalai dikutip Drive, Senin waktu setempat.

LiDAR kini menjadi teknologi yang semakin banyak digunakan produsen mobil sebagai bagian dari teknologi swakemudi dan bantuan pengemudi. Berbeda dengan kamera, teknologi berbasis laser tersebut dapat ‘melihat’ lingkungan dalam bentuk tiga dimensi, bahkan dalam kondisi gelap.

Thirumalai mengatakan kamera memungkinkan kendaraan Waymo membaca rambu-rambu jalan dan mendeteksi warna lampu lalu lintas. Sementara itu, LiDAR dapat menghasilkan model tiga dimensi dari lingkungan sekitar dengan presisi hingga milimeter, sedangkan radar dapat menembus kondisi hujan dan kabut.

Tanpa secara langsung menyebut nama perusahaan milik Elon Musk tersebut, eksekutif Waymo kembali menegaskan kritiknya terhadap Tesla. Ia mengatakan pendekatan Tesla yang mengembangkan sistem bantuan pengemudi menjadi sistem yang sepenuhnya otonom lebih rendah dibandingkan pendekatan Waymo.

“Anda dapat menjalankan miliaran kilometer melalui simulasi atau dengan pengawasan manusia, tetapi sistem kendaraan otonom (AV) benar-benar matang ketika sistem tersebut sepenuhnya bertanggung jawab atas tugas mengemudi. Otonomi penuh memaksa sistem menghadapi konsekuensi nyata dari setiap keputusannya dan mengungkap situasi-situasi baru yang mungkin secara tidak disadari dapat diabaikan oleh manusia atau simulasi," imbuhnya.

Banyak pemilik Tesla di Australia mungkin sudah familiar dengan teknologi Full Self-Driving Supervised (FSD) pada mobil mereka, yang mulai disediakan perusahaan tersebut di Australia pada tahun lalu.

Tesla menggunakan perangkat lunak swakemudi tersebut untuk mengoperasikan kendaraan taksi yang sepenuhnya tanpa pengemudi.

Berbeda dengan Waymo yang telah mengoperasikan taksi swakemudi selama beberapa tahun di sejumlah kota di Amerika Serikat, uji coba Robotaxi Tesla baru saja dimulai di sejumlah kota, termasuk Austin, Texas. Beberapa kendaraan Tesla dalam uji coba tersebut juga masih beroperasi dengan “pengemudi keselamatan” yang memantau sistem.

Data yang dilaporkan pada 2025 menunjukkan Tesla mencatat satu tabrakan untuk setiap 100.000 kilometer yang ditempuh robotaxi-nya, dibandingkan sekitar 160.000 kilometer untuk Waymo. Namun, perbandingan tersebut tidak sepenuhnya setara karena kedua perusahaan menjalankan sistem dan pengujian dalam kondisi yang berbeda, sementara uji coba Tesla juga telah mengalami perkembangan selama periode tersebut.

Hukum Australia saat ini belum mengizinkan kendaraan yang sepenuhnya otonom, seperti kendaraan Waymo, untuk beroperasi di jalan umum setempat. Kondisi tersebut kemungkinan segera berubah. Waymo diketahui secara aktif melakukan lobi kepada pemerintah Australia agar diizinkan mengoperasikan kendaraannya di negara tersebut.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia