Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Telehealth dan AI diharapkan perluas akses layanan kesehatan

NadiKabar Biro
Telehealth dan AI diharapkan perluas akses layanan kesehatan
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Telehealth dan AI diharapkan perluas akses layanan kesehatan.

Jakarta - Telehealth dan akal imitasi (AI) didorong untuk memperluas akses layanan kesehatan di Indonesia, terutama di tengah ketimpangan distribusi tenaga kesehatan dan kondisi geografis yang beragam.

"Prioritas layanan kesehatan Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan realitas yang dihadapi pasien dan tenaga kesehatan di Indonesia," kata Direktur RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology) Indonesia Tantia Dian Permata Indah dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta pada Kamis.

Dalam forum kesehatan yang bertajuk "Healthier Futures, Sooner: How Technology Closes the Gap in Care" di Jakarta, pemanfaatan telehealth, pemantauan pasien dari jarak jauh, AI, sensor wearable, biomarker, dan sistem kesehatan yang saling terhubung menjadi pembahasan penggunaan teknologi untuk layanan kesehatan.

Pembahasan tersebut berkaitan langsung dengan sistem kesehatan Indonesia yang menghadapi tantangan berupa kondisi geografis, meningkatnya beban penyakit kronis, serta distribusi tenaga kesehatan yang belum merata. Tenaga medis dan tenaga kesehatan masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan Pulau Jawa, sementara kawasan timur Indonesia mengalami kekurangan tenaga dalam jumlah besar.

Teknologi kesehatan dinilai dapat melengkapi kapasitas tenaga kesehatan untuk menjangkau pasien di wilayah yang menghadapi keterbatasan akses. Telehealth dan pemantauan jarak jauh, misalnya, dapat mendukung layanan tanpa selalu mengharuskan pasien dan tenaga kesehatan berada di lokasi yang sama.

Sementara itu, AI, biomarker, dan perangkat wearable menjadi pendukung diagnosis lebih dini, pemantauan kondisi pasien, serta pencegahan dan rehabilitasi. Pemanfaatan teknologi tersebut tetap membutuhkan keterlibatan tenaga kesehatan agar penerapannya sesuai dengan kebutuhan klinis.

"Riset menghasilkan nilai terbesar ketika manfaatnya menjangkau pasien dan meningkatkan praktik sehari-hari. Para peneliti, klinisi, dan organisasi layanan kesehatan perlu bekerja bersama sejak awal agar gagasan baru dapat diterapkan secara aman dan efektif dalam layanan kesehatan," kata Profesor Ross Vlahos dari RMIT University.

Forum tersebut mempertemukan peneliti, klinisi, dan pemimpin sektor kesehatan dari Australia dan Indonesia untuk membahas penerapan teknologi kesehatan dalam layanan nyata. RMIT University dan Mandaya Hospital Group juga membahas peluang pengembangan riset bersama dan penerapan hasil riset dalam praktik klinis.

"Menggabungkan keahlian riset RMIT dengan pengetahuan klinis lokal Mandaya dapat membantu kami mengidentifikasi solusi yang relevan bagi Indonesia dan menjajaki bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan secara bertanggung jawab dalam layanan kesehatan nyata," kata Presiden Direktur Mandaya Hospital Group Dr Ben Widaja.

Kolaborasi RMIT dan Mandaya selanjutnya berpotensi dikembangkan melalui riset bersama, penerapan hasil riset ke dalam praktik klinis, pengembangan tenaga kesehatan, serta uji coba teknologi yang ditujukan untuk menjawab tantangan kesehatan di Indonesia.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia