Jakarta - Melihat anak tumbuh sehat tentu menjadi salah satu hal yang paling diharapkan orang tua. Tidak sedikit pula orang tua yang mencari berbagai cara untuk membantu anak mencapai tinggi badan yang optimal, mulai dari memperbaiki pola makan hingga mengajak anak lebih rajin berolahraga.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak ada cara instan untuk membuat anak menjadi lebih tinggi. Tinggi badan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik, nutrisi, kondisi kesehatan, hormon dan proses pertumbuhan.
Meski begitu, orang tua tetap bisa membantu mengoptimalkan pertumbuhan anak dengan kebiasaan sehat sehari-hari. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan.
1. Berikan makanan bergizi seimbang
Asupan makanan menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Anak membutuhkan beragam zat gizi agar tubuh dapat berkembang dengan baik.
Pastikan menu sehari-hari tidak hanya berisi sumber karbohidrat, tetapi juga protein, sayuran, buah dan sumber lemak sehat. Protein bisa diperoleh dari ikan, telur, ayam, daging, tahu, tempe maupun kacang-kacangan.
Kalsium dan vitamin D juga penting untuk kesehatan tulang. Sumber kalsium antara lain susu dan produk olahannya, ikan tertentu yang dapat dimakan bersama tulangnya, serta beberapa jenis sayuran. Vitamin D dapat diperoleh dari makanan tertentu dan paparan sinar matahari yang aman.
WHO menyebut nutrisi yang cukup dan beragam merupakan bagian penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekurangan nutrisi dapat mengganggu proses pertumbuhan.
2. Jangan abaikan waktu tidur
Tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat setelah anak beraktivitas seharian. Tidur yang cukup merupakan bagian penting dari kesehatan dan perkembangan anak.
Kebutuhan tidur berbeda berdasarkan usia. Karena itu, orang tua sebaiknya membangun rutinitas tidur yang konsisten dan menciptakan suasana kamar yang nyaman.
Untuk anak usia 3-4 tahun, misalnya, WHO merekomendasikan sekitar 10-13 jam tidur dalam sehari, termasuk tidur siang. Sementara anak usia 1-2 tahun membutuhkan sekitar 11-14 jam tidur, termasuk tidur siang.
Anak yang lebih besar juga membutuhkan tidur yang cukup sesuai kelompok usianya. Jadi, jangan sampai waktu tidur anak terlalu banyak terpotong karena bermain gawai atau aktivitas lainnya.
3. Ajak anak aktif bergerak
Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk bermain dan bergerak setiap hari. Aktivitas fisik membantu menjaga kebugaran sekaligus mendukung kesehatan tulang dan otot.
Tidak harus selalu berupa olahraga yang serius. Bermain di luar rumah, berlari, bersepeda, berenang, bermain bola atau melakukan permainan aktif bersama teman juga bisa menjadi pilihan.
Untuk anak dan remaja usia 5-17 tahun, WHO merekomendasikan rata-rata setidaknya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari, dengan aktivitas yang memperkuat otot dan tulang setidaknya tiga hari dalam seminggu.
Yang penting, pilih aktivitas yang sesuai usia dan kemampuan anak serta membuat mereka senang bergerak.
4. Kurangi kebiasaan terlalu lama duduk
Selain mendorong anak untuk aktif, orang tua juga perlu memperhatikan berapa lama anak menghabiskan waktu dalam kondisi tidak aktif.
Terlalu banyak waktu untuk duduk, terutama jika digunakan untuk menonton atau bermain dengan layar, dapat membuat anak semakin jarang bergerak.
Pada anak usia dini, WHO merekomendasikan agar waktu sedentari dan penggunaan layar tidak berlebihan serta digantikan dengan aktivitas bermain yang sesuai usia. Aktivitas fisik dan tidur yang berkualitas perlu menjadi bagian dari rutinitas harian anak.
Tidak perlu melarang gawai sepenuhnya. Orang tua bisa membuat aturan waktu penggunaan layar dan mengimbanginya dengan aktivitas fisik, bermain serta interaksi bersama keluarga.
5. Pantau pertumbuhan anak secara rutin
Salah satu cara paling penting untuk mengetahui apakah anak tumbuh dengan baik adalah memantau berat dan tinggi badannya secara berkala.
Jangan hanya membandingkan tinggi anak dengan teman sebayanya. Setiap anak memiliki pola pertumbuhan yang berbeda.
WHO memiliki standar pertumbuhan untuk anak usia 0-5 tahun dan referensi pertumbuhan untuk anak serta remaja usia 5-19 tahun. Grafik pertumbuhan dapat digunakan tenaga kesehatan untuk melihat apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai pola yang diharapkan.
Jika tinggi badan anak tidak bertambah sesuai pola pertumbuhannya, terlihat jauh lebih pendek dibandingkan anak seusianya, atau pertumbuhannya mengalami perlambatan, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.
6. Jangan mudah tergoda produk peninggi badan
Ketika mencari cara agar anak cepat tinggi, orang tua mungkin menemukan berbagai produk yang mengklaim dapat meningkatkan tinggi badan dalam waktu singkat.
Sebaiknya jangan langsung percaya dengan klaim tersebut. Pertumbuhan anak merupakan proses biologis yang kompleks dan tidak bisa digantikan hanya dengan satu produk atau suplemen.
Jika anak mendapatkan makanan yang beragam dan bergizi, orang tua tidak perlu memberikan suplemen secara sembarangan. Penggunaan suplemen sebaiknya berdasarkan kebutuhan dan rekomendasi tenaga kesehatan.
7. Perhatikan kesehatan anak secara keseluruhan
Pertumbuhan tidak hanya dipengaruhi makanan dan olahraga. Kondisi kesehatan anak secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.
Anak yang sering mengalami sakit, memiliki masalah makan, mengalami gangguan penyerapan nutrisi atau mempunyai kondisi kesehatan tertentu mungkin membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
WHO menekankan bahwa anak membutuhkan nutrisi yang cukup, kondisi kesehatan yang baik, rasa aman serta lingkungan yang mendukung agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Karena itu, jika orang tua merasa pertumbuhan anak melambat atau berbeda dari pola sebelumnya, jangan hanya mencoba berbagai cara peninggi badan sendiri. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebabnya.
Jadi, bagaimana cara membantu anak tumbuh lebih tinggi?
Tidak ada satu makanan, olahraga atau kebiasaan yang bisa menjamin anak menjadi lebih tinggi dari potensi pertumbuhannya.
Yang bisa dilakukan orang tua adalah memberikan makanan bergizi seimbang, memastikan anak cukup tidur, mengajak anak aktif bergerak, membatasi waktu sedentari, serta memantau pertumbuhannya secara berkala.
Yang tidak kalah penting, hindari membandingkan tinggi badan anak dengan teman atau saudara. Setiap anak mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda.
Pada akhirnya, tujuan utama bukan sekadar membuat anak cepat tinggi, tetapi memastikan mereka mendapatkan kondisi terbaik untuk tumbuh, berkembang dan tetap sehat.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.