Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, mempertanyakan kesiapan anggaran untuk mengejar target swasembada bawang putih. Pertanyaan itu disampaikan dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman.
Titiek menanyakan apakah tambahan anggaran yang diusulkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar Rp5 triliun cukup untuk mempercepat swasembada bawang putih.
"(Dengan) target swasembada bawang putih secepatnya, apakah cukup dengan tambahan kenaikan anggaran seperti ini?" Tanya Titiek kepada Amran dalam rapat kerja di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Menjawab pertanyaan tersebut, Amran mengatakan, Kementan sebenarnya ingin menambah anggaran hingga dua kali lipat. Namun, dia menegaskan persoalan swasembada bawang putih tidak hanya terkait dengan anggaran.
"Kami sebenarnya mau tambah lagi dua kali lipat. Ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Ini harus kita ada dormannya. Itu enam bulan," jelasnya.
Menurut Amran, salah satu kendala utama justru terletak pada ketersediaan bibit bawang putih. Untuk mengejar kebutuhan bibit, Kementan telah mengirim Direktur Jenderal Hortikultura ke sejumlah negara.
"Nah kami sudah berangkatkan Dirjen Hortikultura ke India, China, bahkan seluruh dunia, karena untuk bibitnya kami ingin bergerak cepat, ternyata bibit itu tidak mudah," ucap dia.
Ia mengatakan, pihaknya juga telah mengambil bibit yang bisa diperoleh untuk kemudian dikembangkan agar produksi ke depan bisa meningkat.
"Sampai sudah ke China, ke India sudah, dan yang bisa kita ambil kita ambil. Ini untuk maksimal, tapi ini kita bibitkan dulu supaya 2028 bisa lebih besar," tutur dia.
Amran mengatakan, pemerintah tetap mengupayakan swasembada bawang putih secepatnya. Namun, kebutuhan bawang putih nasional masih jauh lebih besar dibandingkan produksinya saat ini.
"Kami upayakan swasembada secepatnya, karena kita butuhnya 1,1 juta ton, sedangkan produksi cuma 8 ribu ton," kata Amran.
Karena itu, Amran menegaskan keterbatasan bibit menjadi persoalan utama dalam mengejar swasembada bawang putih, bukan anggaran.
"Tapi bukan karena anggarannya, kami bisa alih pindahkan. Bukan karena anggarannya, tetapi ini karena bibitnya sangat terbatas sekali," terang dia.
Titiek kemudian menyebut Indonesia sebenarnya sudah mampu menghasilkan bibit bawang putih yang bagus. Ia mencontohkan bibit yang ditemui saat kunjungan ke Sembalun, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Kita kan sudah bisa juga menghasilkan bibit-bibit bawang putih yang bagus. Kemarin kita sama-sama kunjungan ke Sembalun, nah itu bibitnya kan bagus-bagus. Nah itu bisa diperbanyak mungkin ya dari situ ya Bapak," kata Titiek.
Selain memperbanyak bibit, Titiek meminta pemerintah mulai menyiapkan lahan-lahan baru untuk budidaya bawang putih. Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan karena bawang putih ditanam pada ketinggian tertentu.
"Yang perlu juga mungkin penyiapan lahan-lahan baru karena itu kan bawang putih di ketinggian tertentu. Jadi sembari mencari bibit yang bagus, dapatnya bibit, lahan-lahan itu sudah dicari-cari dulu di mana kiranya gitu," terangnya.
Dengan begitu, lahan sudah siap ketika bibit tersedia. Titiek juga mendorong pengembangan bibit lokal melalui lembaga penelitian.
"Jadi begitu ada bibit bisa langsung tanam. Dan yang dari lokal-lokal juga diperbanyak, itu dari BRIN, BRMP itu dikejar juga supaya mereka bisa menghasilkan bibit-bibit unggul untuk bawang putih," pungkas dia.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.