Moskow - Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang berdiskusi secara tertutup dengan para penasihat seniornya mengenai kemungkinan pengumuman berakhirnya operasi militer terhadap Iran, menurut laporan The Wall Street Journal, Rabu (2/9), mengutip pejabat AS.
Meskipun dalam laporan itu disebutkan Trump mendukung gagasan untuk mengakhiri konflik tersebut, presiden AS itu juga meyakini bahwa dengan tekanan ekonomi dapat membuat Pemerintah Iran menghentikan program nuklir atau "ambruk dengan sendirinya".
Para penasihat itu juga telah memperingatkan Trump bahwa eskalasi konflik dengan Iran dapat mengancam nasib Partai Republik dalam pemilu paruh waktu pada November mendatang.
Namun demikian, Trump disebut tidak mempertimbangkan faktor pemilu saat memutuskan sesuatu terkait perang.
Pada saat yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth secara diam-diam memperpanjang pengerahan personel militer AS di Timur Tengah, sehingga muncul kemungkinan konflik dapat berlanjut hingga tahun depan.
Tanpa batas waktu tentang selesainya suatu misi memang memberi peluang kepada Trump untuk mengambil langkah militer, kata sumber.
Akan tetapi, semakin panjangnya pengerahan kapal militer dengan jumlah besar beserta 50 ribu personel militer ke kawasan dapat mengakibatkan kerusakan pada instalasi militer dan kelelahan di kalangan personel.
Berbagai unit pertahanan udara dilaporkan dikerahkan di kawasan selama 12 bulan, jauh lebih panjang dari masa tugas biasanya selama 9 bulan, dan sejumlah satuan lain yang dialihkan dari Eropa bahkan sudah bertugas selama setahun lebih.
Sementara itu, sejumlah kapal tempur sudah mencatatkan rekor ketahanan, karena beberapa kapal penghancur dengan 300 awak kapal yang awalnya dikerahkan untuk menyerang Iran kini juga terlibat dalam blokade pelabuhan Iran.
Sekitar 19 kapal Angkatan Laut AS kini ditugaskan di Timur Tengah, termasuk dua kapal induk dan 13 kapal penghancur dengan rudal dengan pemandu, menurut laporan tersebut.
Pada 19 Agustus lalu, Trump mengumumkan operasi ekonomi terhadap Iran dalam bentuk "isolasi pada tingkat yang belum pernah terjadi" dan mendesak sekutu-sekutu AS untuk ikut serta.
Menurut laporan CNN, mengutip pejabat, AS berupaya mengubah taktiknya terhadap Iran menjadi "pencekikan" ekonomi secara bertahap, bergeser dari pendekatan militer yang dimulai sejak akhir Februari lalu.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.