Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

UI ajarkan cara cuci tangan kepada 200 anak migran Myanmar di Thailand

NadiKabar Biro
UI ajarkan cara cuci tangan kepada 200 anak migran Myanmar di Thailand
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait UI ajarkan cara cuci tangan kepada 200 anak migran Myanmar di Thailand.

Jakarta - Sebanyak 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI) dan 1 dosen serta mitra internasional mengajarkan cara mencuci tangan kepada sekitar 200 anak migran Myanmar berusia 6-12 tahun di Samut Sakhon, Thailand.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FIK UI Ns. Indah Permata Sari di Jakarta, Jumat, mengatakan cuci tangan dipilih sebagai fokus edukas, karena merupakan salah satu tindakan preventif yang sederhana dan murah, namun bermanfaat besar dalam menjaga kesehatan. Materi disampaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik anak melalui poster visual, permainan, peragaan, dan praktik langsung.

Dia menyebutkan St. Anna Catholic Learning Center for Migrants menjadi mitra kegiatan, karena merupakan salah satu tempat anak-anak dari komunitas migran mendapatkan akses pembelajaran dan pelayanan sosial.

"Bagi FIK UI, lingkungan tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengabdian untuk memperkuat literasi kesehatan dasar, khususnya perilaku hidup bersih dan sehat," kata Indah.

Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka tidak hanya mengikuti instruksi mahasiswa, tetapi juga secara sukarela maju untuk memperagakan kembali langkah-langkah mencuci tangan yang telah dipelajari. Sesi permainan juga menjadi bagian yang membuat interaksi berlangsung lebih cair dan menyenangkan.

Dia menjelaskan kegiatan bertajuk Empowering Myanmar Migrant Children Through Healthy Habits tersebut merupakan bagian dari Summer Course: Cultural Diversity in Healthcare yang diselenggarakan melalui kolaborasi FIK UI dan Faculty of Nursing, Mahidol University.

Program ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar sekaligus berinteraksi langsung dengan komunitas dengan latar belakang budaya yang beragam.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran mahasiswa FIK UI untuk memahami bahwa edukasi kesehatan tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi. Dalam konteks masyarakat lintas budaya, tenaga kesehatan juga dituntut mampu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan bahasa, karakteristik, dan kondisi sosial masyarakat yang dilayani.

Melalui kegiatan ini, katanya, mahasiswa FIK UI memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu keperawatan komunitas sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, empati, adaptasi budaya, dan kerja sama lintas negara.

Bagi anak-anak migran Myanmar, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kebiasaan hidup bersih dan sehat sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Sebagian mahasiswa FIK UI mengalami keterbatasan komunikasi langsung dengan anak-anak karena perbedaan bahasa. Mahasiswa dari Thailand kemudian membantu menerjemahkan penjelasan, sementara saat permainan dan praktik berlangsung, mahasiswa serta relawan dari berbagai negara turut berinteraksi langsung dengan anak-anak.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan penguatan kepada anak-anak migran mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi tantangan dan pengalaman penting bagi mahasiswa FIK UI untuk belajar melakukan pengabdian masyarakat dalam konteks internasional dan lintas budaya,” ujarnya.

Selain FIK UI dan Mahidol University, kegiatan ini melibatkan mahasiswa internasional, antara lain dari Huazhong University of Science and Technology (HUST), Kaohsiung Medical University (KMU), Zhejiang Chinese Medical University (ZCMU), serta Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kolaborasi lintas negara tersebut membuat kegiatan tidak hanya menjadi edukasi kesehatan, tetapi juga ruang pertukaran pengalaman antarbudaya.

Seorang mahasiswa FIK UI semester 4, Dziki, mengatakan dia senang dapat berbagi pengetahuan dengan anak-anak migran itu.

“Awalnya memang terkendala bahasa, tetapi ketika sudah masuk ke praktik dan bermain bersama, kami bisa lebih menikmati interaksinya dan anak-anak juga terlihat sangat antusias,” katanya.

Bagi pihak St. Anna Catholic Center for Migrants, kehadiran mahasiswa internasional memberikan pengalaman positif bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan.

“Kami sangat senang menyambut kedatangan mahasiswa internasional. Kehadiran mereka membawa kebahagiaan bagi anak-anak dan membuat mereka merasakan bahwa ada banyak orang yang peduli terhadap mereka,” ujar relawan asal Filipina Sr. Frances, yang menjadi guru bahasa Inggris di sekolah itu.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia