Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Update Karhutla 2026: Hotspot di Riau-Jambi Nol, Kalimantan Parah

NadiKabar Biro
Update Karhutla 2026: Hotspot di Riau-Jambi Nol, Kalimantan Parah
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Update Karhutla 2026: Hotspot di Riau-Jambi Nol, Kalimantan Parah.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan, per hari Selasa (1/9/2026) pukul 21:25 WIB, tidak ada titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Riau dan Jambi.

Di sisi lain, hotspot level high confidence di Indonesia masih mengalami peningkatan dibandingkan hasil pemantauan pada 31 Agustus 2026.

Kemenhut menyatakan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga setiap indikasi tetap memerlukan verifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, secara nasional terdeteksi 1.370 hotspot high confidence pada 1 September 2026 pukul 21.25 WIB.

Dengan lokasi hotspot terbanyak ada di Kalimantan Barat. Kemenhut menegaskan, operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat.

"Tidak terdeteksinya hotspot high confidence di Riau dan Jambi menjadi perkembangan positif yang terus dijaga. Namun, konsentrasi hotspot di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah membuat penguatan kewaspadaan dan operasi pengendalian terus difokuskan pada wilayah Kalimantan," tulis Kemenhut dalam keterangan resmi, Rabu (2/9/2026).

"Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus melakukan pemadaman darat, patroli, groundcheck, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pencegahan pada lokasi yang masih memiliki potensi kebakaran dan penyalaan kembali. Enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian adalah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat," tambah Kemenhut.

• Kalimantan Barat: 570 titik• Kalimantan Tengah: 488 titik• Kalimantan Selatan: 64 titik• Sumatera Selatan: 19 titik• Riau: 0 titik• Jambi: 0 titik.

Ditambahkan, selain operasi darat, pemerintah mengerahkan 53 unit armada udara untuk memperkuat pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.

Dari jumlah tersebut:• 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)• 34 armada digunakan untuk operasi water bombing.

"Pengerahan armada udara dilakukan untuk mempercepat penanganan dan pengendalian titik api, menekan risiko penjalaran kebakaran, serta melindungi masyarakat dan lingkungan. OMC terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis," tulis Kemenhut.

Sementara, hasil pemantauan berbasis PM2,5 terkait kualitas udara dan dampak asap, mayoritas wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, meski sejumlah wilayah di Kalimantan masih menunjukkan kualitas udara pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

"Kondisi atmosfer menunjukkan gangguan jarak pandang di sebagian wilayah Kalimantan," ungkap Kemenhut.

Kemenhut mengutip informasi BMKG, pada 1 September 2026, di Pontianak terpantau kondisi udara kabur dengan jarak pandang sekitar 2 kilometer pada pukul 07.00 WIB. Di Banjarmasin, menunjukkan udara kabur dengan jarak pandang sekitar 4 kilometer pada dini hari 1 September. Kondisi kemudian membaik pada pagi hari dengan jarak pandang sekitar 8 kilometer. Kondisi udara kabur juga terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

"Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi jarak pandang dapat berbeda antarwilayah dan berubah dalam waktu relatif cepat mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, curah hujan, serta dinamika atmosfer. Karena itu, perkembangan hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, dan jarak pandang terus dipantau secara terpadu sebagai dasar menentukan prioritas operasi," papar Kemenhut.

Di saat bersamaan, masyarakat diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat di wilayah terdampak asap juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, kondisi cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.

"Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran diminta segera melapor agar dapat ditindaklanjuti petugas sedini mungkin melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email [email protected]," imbau Kemenhut.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia